Kepahlawanan dan Krisis Imaji kebangsaan

Oleh Ahmad Nyarwi

Hari Pahlawan terus kita peringati setiap 10 November. Enam puluh lima tahun silam para pemuda Surabaya dengan segala keterbatasan yang dimiliki berhasil merebut kembali kota tersebut dari tentara Sekutu. Makna penting di balik peristiwa tersebut adalah keberanian kaum muda dalam menolak kembali kehadiran kolonialisme di negeri ini. Hal itu jelas tidak akan terwujud tanpa adanya kesadaran kolektif atas imaji negara-bangsa yang dicita-citakan. Imaji kebangsaan jelas memiliki kekuatan luar biasa dalam menggerakkan pikiran dan tindakan kaum muda untuk berani menentang kembali kolonialisme dan neokolonialisme yang mengancam eksistensi negara-bangsa. Kekuatan imaji kebangsaan kaum muda dapat diandalkan dalam meraih cita-cita mulia negara-bangsa yang merdeka.

Bagaimana dengan kondisi saat ini? Apakah nilai-nilai kepahlawanan kaum muda masih dapat diandalkan dalam menopang kelangsungan negara-bangsa? Tanpa pilar kuat imaji kebangsaan kaum muda, negeri ini bisa jadi terancam mengalami keruntuhan. Runtuhnya solidaritas sosial, menguatnya kesenjangan sosial, melemahnya kepercayaan publik, ancaman krisis ekonomi, konflik sosial vertikal dan horizontal, merebakknya kasus korupsi dan berbagai potensi ancaman bencana, jika tidak terkelola dengan maksimal, dapat memperkuat krisis imaji kebangsaan.

Sebuah keajaiban
Adalah sebuah keajaiban jika negeri masih terus eksis sebagai sebuah negara-bangsa. Pertama, kondisi geografis dan topografis wilayah Indonesia secara sosiologi politik jelas memiliki tantangan serius. Dalam sebuah kuliah terbatas yang pernah penulis hadiri, mantan menteri pertahanan Prof Dr Juwono Sudarsono berpendapat bahwa Indonesia dengan topografi kepulauan adalah sebuah ‘keajaiban’ jika masih terus eksis sebagai sebuah negara-bangsa (Sudarsono, 2006). Kepulauan besar di tengah persilangan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik, dan dihuni dengan penduduk yang berlatar belakang etnik, agama, suku, dan bangsa yang beragam mampu merekonstruksi identitas mereka sebagai sebuah negara-bangsa.
Jika dilihat secara cermat, kerentanan demi kerentanan tampak terus hadir di tengah proses pergulatan Indonesia ‘menjadi’ negara bangsa modern. Sumber kerentanan yang bersifat klasik tidak hanya terkait dengan kontestasi cita-cita ideologi dan politik kebangsaan semata. Kerentanan juga terus datang dari faktor kesenjangan struktur ekonomi, kelas social, dan budaya. Di luar kerentanan yang bersifat klasik itu, gelombang bencana alam dan lingkungan terus menimpa berbagai wilayah negeri ini.
Kedua, imaji kebangsaan juga terus memasuki pertarungan di ranah kognitif. Bahkan di ranah kognitif inilah imaji kebangsaan mendapatkan arena yang strategis, sekaligus bisa sangat berbahaya. Imaji kebangsaan tidak bisa berdiri sendiri. Dia membutuhkan perangkat penopang, negara-bangsa modern yang memiliki sistem politik dan sistem pemerintahan yang mampu melayani kepentingan publik.
Di ranah kognitif, reproduksi nilai-nilai kebangsaan bisa dilakukan kekuasaan negara, masyarakat, dan pasar/market. Negara sebenarnya memiliki peluang strategis dalam memasuki pertarungan di ranah kognitif ini. Namun, di ranah kognitif ini pula, sumber persoalan terbesar justru terletak pada rezim politik penguasa negara. Kesadaran kognitif para elite tentu tidak imun dari intervensi kekuasaan pasar/market, baik yang bersifat nasional dan internasional. Akibatnya, negara sendiri sering terjebak dalam tarikan kepentingan politik elite dan kepentingan pemodal, baik dari dalam dan luar negeri. Negara juga sering terseret dalam skenario kapitalisme domestik dan kapitalisme global. Sisi lain, warga negara juga kian terseret dalam arus budaya komersialisme dan konsumerisme.
Di ranah kognitif ini pula, imaji kebangsaan bertarung dengan imaji konsumerisme dan kapitalisme global. Menguatnya nilai-nilai konsumerisme global, dan intervensi kekuatan kapitalisme internasional menjadikan imaji kebangsaan yang ada di ranah kognitif bisa ditenggelamkan. Akibatnya, negara sebagai medium konsensus imaji kebangsaan bisa menjadi lumpuh di tangah para elite yang kehilangan daya kognitif atas imaji kebangsaan.
Dampaknya negara lemah. Sistem politik, sistem ekonomi, dan sistem sosial serta sistem budaya tidak lagi mampu memenuhi ekspektasi publik dan tidak mampu menjamin kepentingan publik. Di sini imaji kebangsaan bertarung dengan menguatnya ketidakpercayaan publik pada negara—akibat sistem politik dan sistem pemerintahan yang buruk. Imaji kebangsaan juga bertarung dengan menguatnya nilai-nilai global, seperti global culture dan global citizen.

Perebutan legitimasi
Ketiga, imaji kebangsaan juga memasuki arena pertarungan di ranah sosioantropohistoris. Imaji kebangsaan bukanlah sesuatu yang bersifat ahistoris. Dia merupakan sejarah ingatan yang selalu berjalan ke masa depan, dan selalu mengalami keterkaitan dengan ingatan sejarah di masa lalu. Ruang sosioantropohistoris menjadi lapak sejarah yang sangat menentukan bagi masa depan imaji kebangsaan tiap negara-bangsa.
Idealnya, imaji kebangsaan secara historis juga diikuti tumbuhnya negara-bangsa modern berbasis demokrasi. Imaji kebangsaan terus berkembang dengan mengoreksi dan mendegradasi arus kekuasaan yang berbasis pada fasisme, totalitarianisme/otoriterianisme, monarki, dan oligarki yang merugikan kepentingan publik. Kendati demikian, dalam kenyataannya, transformasi sosioantropohistoris masyarakat tidak selamanya mampu menjadi pilar perkembangan imaji kebangsaan itu sendiri.
Di ranah ini, imaji kebangsaan selalu hidup dalam ruang budaya tempat masyarakat terus eksis dan berkembang. Imaji kebangsaan juga terus berjalan di atas struktur sosial masyarakat yang berbeda-beda (apakah masyarakat agraris, industrial ataupun pascaindustrial). Metamorfosis dan transformasi masyarakat baik dalam set lingkungan agraris, industrial, ataupun pascaindustrial akan sangat menentukan masa depan imaji kebangsaan itu sendiri.

Solidaritas kemanusiaan
Lantas apa yang mampu menjadi perekat atas identitas kolektif kebangsaan? Model kepahlawanan klasik yang ditunjukkan sejarah revolusi kemerdekaan jelas tidak kontekstual lagi. Modal utama yang paling berharga di sini adalah imaji atas identitas kebangsaan yang mampu melahirkan solidaritas kemanusiaan. Di sinilah sebenarnya arena baru nilai-nilai kepahlawanan.
Arena politik tanpa solidaritas kemanusiaan akan terus melahirkan beragam bentuk kekerasan dan ketidakadilan. Arena ekonomi tanpa solidaritas kemanusiaan hanya akan terus melahirkan mata rantai kanibalisme dan kesenjangan kelas sosial yang kian mengerikan. Arena sosial tanpa solidaritas kemanusiaan jelas akan melahirkan egoisme personal dan kelompok yang berujung pada konflik sosial vertikal dan horitas. Arena budaya tanpa solidaritas kemanusiaan jelas akan melahirkan jebakan penguatan politik identitas dalam aras konservatif, liberal, dan fundamental. Melalui solidaritas kemanusiaan, nilai-nilai kepahlawanan dapat kembali dibangkitkan. Di berbagai arena kehidupan publik, sekat-sekat apa pun dapat diatasi jika kita mengedepankan solidaritas kemanusiaan. Atas dasar solidaritas kemanusiaan ini pula, imaji kebangsaan dapat terus dikembangkan dalam mencapai cita-cita negara-bangsa.

Staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM, Yogyakarta

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s