Hakim Menangkan Eksepsi Terdakwa Kasus Dugaan Korupsi

BANDAR LAMPUNG–MICOM: Majelis Hakim Pengadilan Negeri Tanjungkarang akhirnya memenangkan keberatan kuasa hukum Bupati Lampung Timur Satono. Ketua majelis hakim Robert Simorangkir, yang didampingi empat hakim lainnya, menilai surat dakwaan jaksa penuntut umum tidak cermat, tidak jelas, dan tidak lengkap.

Hal itu diungkapkannya dalam persidangan ketigasidang kasus dugaan korupsi, Rabu (5/1).

Tak lama setelah Robert mengetukkan palu sidang, Satono pun langsung sujud syukur di hadapan ratusan para pendukungnya yang memadati Ruang Garuda, PN Tanjungkarang.

Jaksa A Kohar dan Yusna Adia, yang tampak lemas setelah mendengar putusan itu, mengatakan akan melakukan upaya hukum lanjutan.

“Saat ini kami ada waktu tujuh hari untuk pikir-pikir,” pungkas Kohar. Persidangan yang dimulai sekitar pukul 10.13 WIB, langsung dipadati massa pendukung Satono yang ingin mendengarkan keputusan hakim atas dakwaan dan keberatan yang telah diajukan sebelumnya, baik oleh jaksa maupun kuasa hukum Satono.

Saat membacakan keputusannya, Robert mengatakan bahwa surat dakwaan jaksa penuntut umum yang memuat Peraturan Menteri

Dalam Negeri Nomor 29/2002 sebagai dakwaan primer tidak tepat karena peraturan itu tidak mengatur tentang ketentuan pidana dan peraturan itu telah kadaluwarsa.

“Dasar hukum yang digunakan jaksa penuntut umum kabur,” kata Hakim Itong Isnaeni yang bergantian dengan Robert membacakan berkas putusan.

Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 29/2002 yang telah dicabut dan direvisi melalui Peraturan Menteri Dalam Negeri nomor 13/2006, kata hakim, tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum dalam perkara dugaan korupsi miliaran rupiah itu.

Pada persidangan itu, sempat terjadi insiden antara pihak kepolisian yang bertugas dan para wartawan yang hendak meliput. Beberapa wartawan yang berusaha meliput jalannya persidangan dihalang-halangi untuk memasuki Ruang Garuda.

“Penjagaan polisi terlalu berlebihan,” kata Aji Aditya, wartawan Antara.

Kasat Intel Polresta Bandar Lampung, Kompol Irawan, membantah jika pihaknya menghalang-halangi kerja para peliput.

“Kami hanya berusaha membatasi masyarakat yang masuk karena ruangan terbatas,” kata Irawan beralasan. (*/OL-10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s