Manajemen Birokrasi PNS Manado Lemah

TRIBUNMANADO.CO.ID,MANADO-PENGAMAT Politik Pemerintahan Sulawesi Utara, Mahyudin Damis mengatakan, liburan cuti Natal dan Tahun Baru bagi para pegawai negeri sipil (PNS) di pemerintahan daerah Kota Manado telah diberikan kesempatan luas, namun mereka para PNS tidak mengimbanginya dengan timbal balik sikap rasa kedisiplinan yang tinggi.

Saat apel perdana, masih banyak PNS di lingkungan pemerintah Kota Manado yang terlambat. Fenomena ini merupakan sebuah gambaran mentalitas rezim sebelumnya. Budaya lama yang buruk masih terbawa hingga sampai sekarang.

Terlambat dalam apel mereka anggap itu soal biasa karena tidak ada sangsi tegas selama ini. Dimungkinkan, dampak dari ketidakdisiplinan itu bisa meluas hingga kesoal fokus kinerja rutin PNS. Jadi bila kerja rutin tidak ditangani secara profesional dan penuh rasa tanggungjawab, otomatis tidak akan membuahkan hasil yang maksimal. Ini akan berujung terhadap pelayanan PNS ke masyarakat tidak maksimal.

Selain itu, dampak lain dari ketidakdisiplinan PNS akan berdampak pada citra top leader seperti Walikota, Bupati dan Gubernur itu sendiri, bahwa mereka lemah dalam soal memanajemen birokrasi.

Untuk itu ada 3 solusi pertama, beri sangsi bagi yang terlambat. Mereka diberi ruang tersendiri atau barisan tersendiri yang kemudian diberi nasehat berisi rasa tanggungjawab sebagai Pamongparaja di depan umum. Bila perlu ada pemotongan uang lauk pauk dan gaji bagi mereka yang sering terlambat dan yang sering tidak pernah hadir ke kantor.

Sebaliknya, bagi PNS yang rajin dan penuh rasa tanggungjawab dalam kinerjanya diberi “reward” atau penghargaan.

Olehnya, bagi kepala daerah yang baru dilantik ini merupakan momentum yang baik dalam memberi contoh dan keteladanan kepada para bawahan. Bahwa dalam kepemimpinan mereka ke depan betul-betul mewujudkan janji PNS, yakni Panca Prasetya Korpri.

PNS yang kritis memang akan “enggan” ikut upacara bila pemimpinnya pun tidak mematuhi nilai-nilai yang terdapat dalam Panca Prasetya, Pancasila, dan UUD 1945 yg selalu dibacakan dalam Apel. Artinya, harus satu kata dengan perbuatan agar Apel betul-betul bermakna. Tidak hanya bersifat ritual semata. 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s