Penyeberangan Banda Aceh-Meulaboh Masih Pakai Rakit

BANDA ACEH (MI):Sejak dibubarkan pada 2008 lalu, Badan Rehabilitasi Rekontruksi (BRR) Aceh-Nias mengklaim semua pembangunan kembali struktur dan infrastruktur telah selesai dengan baik. Selain itu, masa pemulihan Aceh, akibat gempa dan tsunami 26 Desember 2004, telah selesai.

Namun, enam tahun setelah gelombang dahsyat yang memorakprandakan Aceh, beberapa infrastruktur masih dalam kondisi mengenaskan.

Salah satunya adalah jalur nasional Banda Aceh, Ibu Kota Provinsi-Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat, yang hingga kini masih memakai rakit penyeberangan darurat.

Padahal, itu jalur nasional di pesisir pantai Samudera Hindia, yang menghubungkan Banda Aceh, dengan tujuh kabupaten/kota di wilayah pantai barat Aceh, seperti Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, Aceh Selatan, Kota Subulussalam, dan Kabupaten Singkil.

Rakit penyeberangan itu terletak pada dua loksi penyeberangan sungai Krueng Lamno, Kecamatan Jaya, Kabupaten Aceh Jaya, yaitu di kawasan Desa Alue Mie-Teumareuem dan Desa Lambeusoe.

Sebelumnya, di lokasi setempat ada jembatan penyeberangan, kemudian hancur dihantam gelombang tsunami enam tahun lalu.

Setiap kendaraan yang hendak melewati jalur itu harus naik rakit penyeberangan darurat yang dikelola kelompok masyarakat setempat.

Truk ukuran sedang dikenai tarif Rp35.000 per unit untuk satu kali menyebarang, mobil pikap atau minibus harus membayar Rp20.000 per unit, dan motor roda dua Rp5.000 per unit.

Para sopir minibus pribadi mengaku terbebani dengan tarif itu karena setiap kali jalan mereka harus bayar di tempat penyeberangan.

“Kalau satu hari saja ada dua kali nyebrang harus membayar Rp 40.000, bila dijumlahkan satu bulan menjadi Rp1,2 juta. Sungguh besar biaya dikeluarkan dalam perjalanan yang seharusnya bisa diatasi pemerintah,” kata Muhammadiah, pengemudi minibus Banda Aceh-Meulaboh.

Lebih parah lagi, rakit penyerangan itu telah memakan korban jiwa karena berulang kali hanyut dan oleng sehingga menenggelamkan puluhan penumpang serta menewaskan beberapa orang. Seperti pada awal 2010 sekitar 50 orang rombongan pengantar pengantin tecebur ke sungai akibat tidak seimbang muatan.

Tiga di antaranya ditemukan meninggal karena tidak bisa berenang.

Banyak pihak menilai pemerintah atau Dinas Bina Marga Cipta Kaya Provinsi Aceh lamban mengatasi kendala transportasi darat Banda Aceh-Meulaboh.

Hal itu terbukti pada pembangunan jembatan rangka baja yang dimulai sejak awal setelah tsunami hingga sekarang belum juga rampung. Bahkan, belakangan sempat terhenti proses pembanguannya sekitar dua tahun. (*/OL-10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s