Pesona Sutera Sulawesi Selatan

SELAIN batik, Tanah Air kita masih menyimpan berbagai kekayaan tradisi lainnya yang menunggu untuk dieksplorasi. Misalnya saja sutera alam yang menjadi produk unggulan Sulawesi Selatan.

Salah satu orang yang menyadari betul potensi tersebut adalah perancang busana Carmanita. Dalam pertunjukan fesyen yang digelar di Jakarta, Rabu (22/12), ia menampilkan sejumlah kreasi busana berbahan Celebes silk.

Ada 20 potong busana yang diperagakan dalam pertunjukan yang berlangsung sejak pukul 12.30 WIB itu. Pergelaran ini termasuk dalam rangkaian acara South Sulawesi Silk Day, yang digelar Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dalam upaya menembus pasar internasional.

“Terutamanya untuk mengangkat baju bodo (pakaian adat Sulawesi Selatan) kembali,” ujar Carmanita saat ditanya tentang konsep pertunjukannya.

Desainer yang membutuhkan waktu seminggu untuk menyiapkan koleksi tersebut, bermain dengan motif ikat dan printing Toraja nan manis. Sementara untuk teknik, ia memilih metode draping dalam membuat busana.

“Semua draping. Kalau pakai patron itu, pertama, membuat kita tergantung. Selain itu, paternity. Membatasi. Kalau draping, kan, bebas,” katanya.

Kedua puluh busana yang dipamerkannya terdiri atas setelan atasan longgar dan celana model jodhpur, rok panjang, serta sejumlah gaun. Semuanya hadir dalam perpaduan warna dan corak yang berani, mulai dari hijau, biru, merah, kuning, cokelat, hitam, putih, dan oranye.

Ia sendiri enggan memberikan judul pada koleksinya, termasuk kapan dan siapa yang pantas mengenakannya. “It’s a free fashion,” cetusnya lugas.

Lantas, sulitkah mengolah kain tradisional tersebut menjadi busana yang sesuai dengan cita rasa kekinian? Ternyata tidak.

“Tidak susah mengolahnya. Kalau sudah terbiasa, enggak ada persoalan,” katanya enteng.

Kendala
Selama ini, Sulawesi Selatan memang terkenal dengan produksi suteranya. Persuteraan alam di daerah tersebut, khususnya pertenunan gedogan telah ada sejak abad ke-16. Kegiatan budidaya murbei dan ulat sutera dikembangkan sejak tahun 1960-an, yang diikuti dengan berkembangnya industri pemintalan dengan puncak produksi benang sutera pada 1970-an.

Akan tetapi, beberapa tahun belakangan ini produksi benang sutera Sulawesi Selatan mengalami penurunan. Menurut Kepala Bidang Promosi Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Sulawesi Selatan Sukarniaty Kondolele, pada tahun 2000 produksi benang sutera alam di Sulsel mencapai 250 ton pertahun. Angka tersebut terus menurun menjadi 200 ton pada 2007, dan merosot tajam menjadi hanya 80 ton pada 2009. Akibatnya, ketika ada permintaan tinggi, para pengrajin tidak mampu memenuhinya.

Industri tekstil di negara  kita sendiri, diakuinya, masih bergantung pada sutera impor dari Cina. Kenyataan inilah yang lantas membuat Carmanita pesimistis sutera Indonesia bisa go international.

“Bahan baku tidak mungkin diekspor. Kita aja kekurangan,” katanya.

Selain itu, masalah lain yang menjadi perhatian desainer tersebut adalah teknik pewarnaan kain. “Banyak warna-warna striking. Warnanya luntur. Saya mau bantu perbaiki pewarnaannya, sama tata letak tatanan motif.”

Acara South Sulawesi Silk Day ini digelar sebagai bagian kegiatan awal Road Show World Silk Conference 2011, yang rencananya akan dilaksanakan di Makassar pada tahun depan. (LI/OL-06)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s