Dampak Perseteruan Bupati Nabira dan Susi Air, Enam Kabupaten Terancam Terisolisasi

Perseteruan antara Bupati Nabire  dan manajemen maskapai penerbangan Susi Air bakal berbuntut panjang.

Distribusi barang pokok di antaranya penyaluran beras rakyat miskin (raskin) dari Bandar Udara Nabire ke sejumlah kabupaten yang berdekatan akan berhenti total.

Termasuk, trasportasi murah bagi masyarakat untuk kelas penerbangan perintis yang dilayani Susi Air juga akan tidak bisa berjalan.

Bupati Nabire Isaias Douw telah mengeluarkan edaran larangan mendirikan homebase bagi maskapai penerbangan Susi Air di Bandara setempat, Jumat (11/12).

Pascalarangan tersebut, manajemen Susi Air berencana akan menghentikan pelayanan penerbangan ke puluhan distrik (kecamatan) yang tersebar di enam kabupaten yang berada di sekitar Kabupaten Nabire.

”Larangan yang dikeluarkan bupati tersebut berdampak sangat besar bukan hanya bagi maskapai Susi Air, melainkan bagi kepentingan dari warga di enam kabupaten di kawasan pegunungan tengah Papua yang berdekatan dengan wilayah Nabire,” ujar Susi Pudjiastuti, selaku pemilik maskapai Susi Air di Jayapura, Sabtu (11/12.

Susi mengatakan, pihak manajemen Susi Air siap memindahkan homebase dari Bandara Nabire ke Bandara Frans Kaisepo, Kabupaten Biak.

”Sejak 3 tahun silam beroperasi, sebanyak  4 pesawat jenis Pilatus, helikopter, dan Caravan berada dihomebase Bandara Nabire. Tapi, pascasurat larangan yang dikeluarkan bupati setempat, manajemen telah siap memindahkan seluruh operasional ke Kabupaten Biak,” ujarnya.

Akibat dikeluarkan surat larangan tersebut, maskapai Susi Air akan menghentikan operasional pelayanan rute penerbangan perintis maupun distribusi barang pokok ke sejumlah distrik tersebar di enam kabupaten pegunungan Papua tengah yang berada berdekatan Kabupaten Nabire.

Homebase di Bandar Udara Nabire untuk melayani distribusi pengiriman raskin setiap bulannya 60 ribu ton bagi warga yang tinggal di sejumlah distrik (kecamatan)  kawasan pesisir dan pegunungan Papua bagian tengah. Serta  2 rute penerbangan perintis dari bandara Nabire menuju Ilu dan Fawi (Kabupaten Puncak) juga tidak bisa lagi berjalan, biasa beroperasi 5 kali dalam seminggu. ”Kami terpaksa menutup penerbangan murah bagi warga di dua distrik tersebut,” tuturnya.

Penerbangan perintis Susi Air melanjutkan layanan penerbangan Merpati Airlines, selaku pemenang tender penerbangan perintis dari Departemen Perhubungan yang melayani kedua rute tersebut.

”Sejak 4 bulan silam, rute penerbangan perintis yang disubsidi pemerintah pusat tujuan Nabire – Fawi dan Ilu dialihkan dari maskapai Merpati kepada Susi Air sebagai transportasi murah bagi masyarakat setempat,” tuturnya.

Ia menjelaskan, penghentian rute penerbangan perintis dan distribusi barang pokok dilakukan mengingat biaya yang dikeluarkan akan lebih besar pascadipindahkannya homebase dari bandara Nabire ke Frans Kaisepo di Kabupaten Biak.

Penerbangan dari home Base Bandara Frans Kaisepo menuju Fawi dan Ilu sangat tidak mungkin dilakukan mengingat kondisi cuaca di daerah tersebut sangat ekstrem. Waktu tempuh yang dibutuhkan dari Bandara Frans Kaisepo menuju Fawi dan Ilu sekitar 3 kali lipat dibandingkan bila ditempuh dari Bandara Nabire ke Fawi dan Ilu. Manajemen Susi Air khawatir bila dipaksakan melayani 2 rute tersebut dari homebase Bandara Frans Kaisepo akan berisiko tinggi dilihat dari unsur keselamatan dan biaya operasional yang dikeluarkan.

Ia juga mengaku siap menanggung konsekuensi hukum dan kerugian besar apabila penerbangan perintis yang disubsidi pemerintah pusat tidak bisa terealisasi 100%.

”Kami siap di blacklist  pemda dan konsekuensi lainnya. Tapi itu tak masalah jika memang Bupati menghendaki Susi Air keluar dari Bandara Nabire,” tegasnya.

Susi menambahkan, pihaknya juga meminta maaf kepada warga di sejumlah kabupaten di kawasan Pegunungan Papua tengah karena tidak bisa lagi melayani jasa akomodasi di bidang transportasi udara, apabila Bupati Nabire Isaias Douw serius merelaisasikan pelarangan bagi Susi Air memiliki home base di bandara Nabire.

”Saya sudah instruksikan bagi para pilot dan kru Susi Air yang stay di homebase Bandara Nabire, apabila bupati jadi merealisasikan larangan tersebut, untuk segera keluar dan membawa seluruh perlengkapan dan pesawat menuju bandara Frans Kaisepo,” tambahnya.

Perseteruan antara Bupati Nabire Isaias Douw dengan manajemen maskapai penerbangan Susi Air berawal dari persoalan sepele.

Bupati Isaias Douw bersama 3 pejabat Pemkab Nabire pada 30 November hendak

berangkat menuju Biak menggunakan maskapai Susi Air. Namun, pemesanan

tiket yang dilakukan pemda terlambat sehingga pihak maskapai hanya

memberikan 1 dari 4 tiket yang diminta bupati.

Tapi, Susi Air memberikan pengganti agar rombongan Bupati diantar ke Biak Numfor menggunakan pesawat Pilatus tanpa dikenakan biaya sepeser pun. Akan tetapi, tawaran tersebut ditolak bupati. Selang sehari kemudian, Bupati mengeluarkan surat instruksi kepada Kepala Bandara Nabire mengusir seluruh kru , pilot, dan pesawat ke luar dari wilayahnya.

Sejak 2 Desember lalu, Susi Air berhenti melayani rute ke sejumlah distrik di pedalaman pegunungan Papua tengah. Selama tiga hari berturut-turut,  demo dari ratusan warga asli Papua digelar guna meminta penerbangan Susi Air kembali beroperasi. Aksi besar-besaran mengakibatkan Wakil Bupati Nabire, Mesak Magai mengeluarkan surat disposisi meminta maskapai Susi Air kembali beroperasi dan bisa menggunakan bandara Nabire sebagai home base. Dua hari pasca dikeluarkan rekomendasi, Susi Air kembali beroperasi melayani rute penerbangan

perintis dan distribusi bahan pokok ke sejumlah distrik.

Namun, dua hari berselang Bupati Nabire kembali mengeluarkan statemen agar Susi Air tidak boleh memiliki home base di Naibre kendati bisa beroperasi melayani rute sejumlah distrik dan hanya singgah di bandara Nabire.

”Tidak ada kontribusi maskapai Susi Air bagi pemda Nabire selama beberapa tahun beroperasi. Silahkan beroperasi tapi Susi Air tidak bisa memiliki homebase di bandara Nabire,” ujar Bupati Nabire Isaias Douw. (OL-11)

2 responses to “Dampak Perseteruan Bupati Nabira dan Susi Air, Enam Kabupaten Terancam Terisolisasi

  1. Masalah yang sebenarnya adalah Susi Air tidak melakukan kewajiban pada daerah (membayar pajak). Bukan karena tidak diberi tiket. Susi air itu perusahaan tetapi selama ini tidak pernah melakukan kewajiban. Hal yang sama juga sudah dilakukan kepada Hellycopter dan lainnya. Hanya karena Susi Air kepala batu. Begitu yang sebenarnya….. Kayaknya berita ini juga tidak berimbang.

  2. Masalah kecil, hanya tidak dapat fasilitas ticket terus ngawur marah2 dan malah membahayakan rakyatnya. Seharusnya biasa sajalah, wong yang perlu naik pesawat kan bukan hanya Sang Bupati. Wah kalau begini gawat partainya kagak bakal kepilih lagi, karena tidak bisa mementingkan kebutuhan rakyat. Kayaknya masih belum beradab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s