Pertamina Bertekad Tetap Dominan Di Blok Natuna

Pertamina (Persero) bertekad tetap menjadi operator sekaligus pemegang saham mayoritas dalam pengelolaan Blok East Natuna, Kepulauan Riau, kendati nantinya bermitra dengan beberapa perusahaan lainnya.

Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan mengungkapkan dengan adanya penandatangan pokok-pokok perjanjian (head of agreement/HoA) dengan ExxonMobil Corporation beberapa waktu lalu, kedua perusahaan akan membicarakan lebih detail soal pengembangan blok migas yang sebelumnya dikenal dengan Blok Natuna D Alpha.
“Kami akan tetap menjadi operator, sekaligus pemilik mayoritas di Natuna,” tuturnya, hari ini.

Selain itu, lanjutnya, Pertamina juga berkeinginan untuk mengelola aset-aset migas Exxon bila memang perusahaan migas multinasional asal Amerika Serikat itu masuk sebagai mitra di Natuna.

“HoA kemarin itu kan tunggu pembicaraan b t b [business to business]. Kalau Exxon masuk ke Natuna, maka Pertamina juga mesti masuk di aset Exxon yang produktif. Jadi, HoA ini belum selesai.”

Terkait kemungkinan adanya pembatalan kerja sama pengelolaan Blok East Natuna bersama Exxon, Karen mengatakan hal itu bisa saja terjadi bila BUMN miga itu tidak mendapatkan apa-apa dari aset Exxon.

“Dibatalin saja [bila tidak dapat apa-apa], tetapi masih belum bisa dipastikan karena kita kan belum ketemu. Sampai kita ketemu dulu, kita dapat apa dari asetnya,” tutur Karen.

Seperti diberitakan sebelumnya, ExxonMobil akhirnya menjadi salah satu mitra terpilih dari rencana tiga mitra Pertamina untuk mengelola Blok East Natuna.

Pertamina, telah ditunjuk untuk mengelola Natuna melalui Surat Menteri ESDM No. 3588/11/MEM/2008 tertanggal 2 Juni 2008. Selanjutnya, Pertamina melakukan seleksi terhadap beberapa perusahaan yang akan menjadi mitra pengembangan Natuna.

Blok Natuna dengan kandungan gas terbesar di dunia itu diperkirakan menyimpan sekitar 500 juta barel minyak dan memiliki cadangan potensi gas 222 triliun kaki kubik, dengan potensi ekonomi lebih dari US$600 miliar.

Namun, perkiraan biaya untuk pengelolaan blok tersebut juga sangat besar, diperkirakan mencapai US$40 miliar mengingat kandungan gas CO2 yang mencapai 70%.

Di sisi lain, Vice President Asia Pacific Middle East ExxonMobil Exploration Mike Cousins mengatakan perusahaan tersebut mengharapkan penandatanganan kontrak pengelolaan Blok East Natuna dengan Pertamina bisa terealisasi dalam waktu 6 bulan ke depan, setelah ditandatanganinya HoA tersebut.

“Kami sangat senang afiliasi dengan Pertamina. Kami menantikan negosiasi dan bekerja sama dengan Pertamina dan pemerintah untuk memaksimalkan pengembangan blok migas itu,” tutur dia.

Dia mengatakan dengan cadangan gas Natuna yang mencapai 200 triliun kaki kubik, perusahaan migas terbesar asal Amerika Serikat (AS) itu tertantang secara teknologi mengembangkan blok migas tersebut.

Hanya saja, lanjut dia, kemungkinan gas yang bisa diproduksikan dari blok itu hanya sekitar 45 triliun kaki kubik, mengingat sekitar 70% kandungan gasnya berupa karbon dioksida (C02).

Berdasarkan kajian Wood MacKenzie Ltd, konsultan yang berbasis di Edinburgh, Skotlandia, yang ditunjuk Pertamina, ada delapan perusahaan migas multinasional yang cocok menjadi calon mitra Pertamina di Blok Natuna.

Kedelapan perusahaan itu adalah ExxonMobil Corporation, Royal Dutch Shell Plc, Total SA, Chevron Corp, StatOil, China National Petroleum Corp (CNPC), Petroliam Nasional Berhad (Petronas), dan Eni SpA.

Namun, dalam perkembangannya CNPC menyatakan mundur sehingga short list calon mitra Pertamina mengerucut menjadi lima perusahaan dan terakhir tinggal tiga.(yn)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s