Kualitas Pertumbuhan Ekonomi Dipertanyakan

Agresivitas pertumbuhan ekonomi Indonesia pascakrisis keuangan global 2008 dikhawatirkan tidak akan bisa signifikan mengurangi tingkat kemiskinan karena karakter pertumbuhannya yang tidak berkualitas.

Anthony Budiawan, Direktur Eksekutif Indonesia Institute for Financial and Economic Advancement (IIFEA) mengatakan capaian pertumbuhan ekonomi yang tidak berkualitas itu kian diperparah kategorisasi kemiskinan yang kurang bisa memotret keadaan sebenarnya.

“Pendapatan per kapita Indonesia diprediksi mencapai US$3.000 tahun ini, akan tetapi capaian itu tidak berdampak positif pada upaya pengurangan tingkat kemiskinan di Tanah Air,” ujarnya dalam satu diskusi di Jakarta, kemarin.

Mengenai kategorisasi kemiskinan, Anthony berpendapat Badan Pusat Statistik (BPS) seharusnya juga menyediakan data kemiskinan untuk penduduk yang berpendapatan US$2 dan US$4 per hari, tidak hanya di bawah US$1 per hari.

Berdasarkan kategorisasi kemiskinan BPS, penduduk dengan pendapatan di bawah US$2 dan US$4 per hari memang belum termasuk miskin. Namun, berdasar kategorisasi Bank Dunia, mereka masuk dalam kemiskinan menengah yang rentan terhadap krisis.

Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah Bappenas Max Hasudungan Pohan mengatakan bagaimanapun pertumbuhan ekonomi yang dikonfirmasi oleh kenaikan angka pendapatan per kapita berdampak positif terhadap penurunan tingkat kemiskinan.

“Faktanya, berdasarkan data BPS, tingkat kemiskinan per Maret 2010 menurun menjadi 13,33% atau sekitar 31,02 juta jiwa. Angka ini menurun dibanding tahun 2009 sebesar 14,15% dari total penduduk Indonesia,” katanya.

Direktur Lembaga Penelitian dan Penyelidikan Ekonomi Masyarakat Fakultas Ekonomi UI Arianto A. Patunru mengatakan perdebatan soal kualitas pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak mengabaikan tiga karakteristik kemiskinan di Indonesia.

Karakter itu, pertama, kategori tingkat kemiskinan sendiri. Penduduk miskin 2009 tercatat 15,4%, tapi ketika kategorinya dinaikkan jadi US$2, naik jadi 43%. “Berarti memang banyak yang di bawah garis kemiskinan, lebih banyak lagi yang near poor yang sensitif krisis.”

Kedua, kemiskinan non-pendapatan (income non-poverty) perlu lebih diperhatikan karena mereka langsung tidak ada akses kepada air bersih, sanitasi, pendidikan dan kesehatan. “Ini lebih mengerikan dari income poverty,” katanya.

Karakter ketiga, yakni disparitas wilayah. Arianto mengatakan 8 dari 10 provinsi termiskin di Indonesia berada di wilayah Indonesia Timur. Melihat tingkat kemiskinan di Indonesia, lanjutnya, perlu memperhatikan ketiga karakteristik kemiskinan tersebut.

Yang jelas, pembangunan ekonomi Indonesia saat ini perlu lebih mengutamakan bagaimana meningkatkan daya saing. Dengan begitu, isu-isu kemiskinan termasuk pengangguran dapat pelan-pelan berkurang. (bsi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s