Diperkirakan, 20 tahun Lagi Kota Pekalongan Tenggelam

Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dalam kurun waktu 20 tahun mendatang diperkirakan akan hilang karena tenggelam, akibat banjir air laut pasang (Rob) yang terus meningkat hingga ketinggian satu meter dan telah merendam 25% wilayah kota.

Berdasarkan pantauan Media Indonesia di Pekalongan, Jumat (10/12), banjir air laut pasang terus meluas dan semakin meninggi di Kota Pekalongan, yang telah merendam sembilan kelurahan di tiga kecamatan–yakni Pekalongan Utara, Pekalongan Barat, dan Pekalongan Timur atau 25 persen dari wilayah kota. Ketinggian banjir rob pun terus meningkat dari sebelumnya di bawah 50 cm kini telah mencapai satu meter.

Tidak hanya itu, banjir rob juga mengakibatkan terjadinya pergeseran bibir pantai yang hilang sekitar 100 meter dari kondisi awal dengan panjang mencapai lima kilometer. Rob pun merendam ratusan rumah dan jalan serta mengganggu berbagai aktivitas produktif, seperti persawahan, perkebunan, industri batik, dan juga aktivitas warga lainnya.

“Jika tak segera ditangani dipastikan Kota Pekalongan akan hilang tenggelam oleh air laut dalam kurun waktu 20 tahun lagi, karena banjir rob semakin meluas dan meninggi,” kata Guru Besar Ilmu Teknik Pengairan niversitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang Imam wahyudi, di Pekalongan, Jumat (10/12). Penanggulangan bencana rob, ujar Imam, khusus Kota Pekalongan memerlukan anggaran yang cukup besar karena untuk membangun sistem polder. Karena itu, pembangunan ini harus melibatkan pemerintah provinsi dan pusat.

Pekalongan, lanjutnya, membutuhkan sedikitnya lima polder dengan anggaran masing-masing mencapai Rp20 miliar, sehingga dibutuhkan dana sedikitnya Rp100 miliar mengatasi banjir rob tersebut. Selain itu, penanganan di pinggir pantai dengan hutan mangrove juga terus dijalankan.

Wali Kota Pekalongan Basyir Achmad secara terpisah mengungkapkan berbagai upaya telah dilakukan oleh Pemkot Pekalongan, selain melokalisasi banjir juga mengupayakan pembangunan folder dan kolam penampungan sementara. Namun, karena terbatasnya anggaran pemkot, pembangunan tidak dapat dilaksanakan dengan cepat.

“Kita telah mengundang ahli rob dari swedia dan Belanda. Dari mereka inilah, pemikiran untuk mengatasi rob telah mulai dijalankan,” kata Basyir.

Prediksi hilangnya Pekalongan akibat banjir rob. menurut Basyir, merupakan sebuah peringatan dan perlu mendapatkan perhatian serius, apalagi faktanya telah diungkapkan oleh profesor ahli di bidang rob yang tentunya sudah berdasarkan data dan penghitungan yang matang.

Hilangnya Pekalongan dari peta nasional, menurut Basyir, adalah kerugian yang besar bagi Indonesia. Selain hilangnya pemasukan devisa karena produk batik yang telah mendunia, pemerintah juga akan kesulitan untuk mengatasi nasib warga yang kini mencapai 200 ribu jiwa. “Lebih baik kita korbankan anggaran Rp100 – Rp200 miliar, daripada hilang ratusan triliunan rupiah,” katanya. (*/OL-10)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s