Sistem Penjaminan Mutu Dikti RI Diakui Negara-negara ASEM

Quality assurance (sistem penjaminan mutu, red) pendidikan tinggi di Indonesia semakin diakui dan mendapatkan perhatian positif dari negara-negara Asia-Europe Meeting (ASEM).

Hal itu mengemuka dalam diskusi pada Konferensi Internasional ASEM bertajuk Quality Assurance and Recognition in Higher Education: Challenges and Prospects di kota Limassol, Siprus (6-7/12/2010).

Dengan visi smart and comprehensive intelligence, pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional terus mendorong lembaga pendidikan tinggi untuk melakukan akreditasi terhadap program studi yang dimilikinya.

“Tujuannya untuk meningkatkan daya saing dan mempermudah mobilitas transfer mahasiswa,” ujar Direktur Akademik Ditjen Dikti Dr. Illah Sailah, yang menjadi salah satu pembicara.

Menurut Sailah, sekitar 8.000 program studi saat ini sudah diakreditasi dari sekitar 13.000 program studi yang ada di lebih dari 3.000 lembaga pendidikan tinggi di Indonesia.

“Tantangan bagi Indonesia adalah untuk mengakreditasi sekitar 5.000 program studi sisanya tersebut,” terang Sailah, seperti disampaikan Sekretaris III Multilateral/Politik Danny Rahdiansyah kepada detikcom Selasa malam ini.

Disebutkan, sebagai salah satu upaya meningkatkan daya saing lembaga pendidikan tinggi Indonesia di kawasan Asia Tenggara dalam kerangka ASEAN, Indonesia juga terus berupaya meningkatkan jumlah keterwakilan lembaga pendidikan tinggi Indonesia yang tergabung pada ASEAN University Network (AUN).

Saat ini Indonesia diwakili oleh tiga lembaga pendidikan tinggi yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Diharapkan jumlah wakil Indonesia dalam AUN dapat ditambah menjadi lima atau enam lembaga pendidikan tinggi. Untuk jangka panjang hal tersebut dapat meningkatkan profil pendidikan tinggi Indonesia di dalam kerangka ASEM.

Dalam pandangan peserta konferensi, penjaminan mutu di tingkat program studi, bukan di tingkat universitas, seperti dilakukan Indonesia lebih dapat mencerminkan kualitas dari sistem pendidikan tinggi di negara tersebut, karena dilakukan pada cakupan lebih kecil.

Selain itu secara umum dirasakan perlu untuk terus melakukan pertukaran informasi dan pengalaman dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang ada di Eropa dan di Asia melalui mekanisme ASEM ini.

Pada kesempatan sama, Kepala Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Prof. Kamanto Sunarto dalam kapasitasnya sebagai anggota Dewan Asia Pacific Quality Network (APQN) juga menyampaikan presentasi mengenai situasi terkini penjaminan mutu pendidikan tinggi di kawasan Asia Pasifik.

Pemaparan kedua pembicara asal Indonesia ini mendapatkan apresiasi yang baik dari peserta konferensi lainnya.

Di akhir konferensi, terdapat pandangan umum bahwa sistem penjaminan mutu yang ada pada lembaga pendidikan tinggi baik di Asia dan Eropa dapat terus ditingkatkan melalui pertukaran informasi dan pengalaman.

Selain itu muncul kesepahaman bahwa kerjasama penjaminan mutu bukan diarahkan menjadi suatu standardisasi yang rigid, melainkan mencari kesamaan dari sistem pendidikan yang bervariasi antara lembaga pendidikan tinggi di Asia maupun di Eropa.

Sehubungan dengan hal tersebut, pertemuan merekomendasikan perlunya diselenggarakan pelatihan-pelatihan, workshop ataupun seminar di bawah kerangka ASEM untuk meningkatkan kapasitas dan kerjasama pendidikan antar kedua kawasan.

Konferensi Internasional ASEM ini dihadiri oleh peserta dari 20 negara Mitra ASEM ditambah peserta dari ASEM Education Secretariat, perwakilan dari Komisi Eropa dan Asosiasi Universitas se-Eropa.

Menurut Danny Rahdiansyah, sejak 2006 ASEM memberikan fokus lebih besar pada kerjasama di bidang pendidikan tinggi.

“Hal ini merupakan komitmen para pemimpin ASEM pada KTT ASEM ke-6 di Helsinki, Finlandia (2006), yang menjadi bukti semakin pentingnya pendidikan sebagai investasi untuk pengembangan mutu sumber daya manusia,” demikian Danny, yang turut mendampingi delegasi Indonesia pada konferensi ASEM ini.

Sebagai tindaklanjut dari KTT ASEM ke-6 tersebut, telah diselenggarakan pertemuan tingkat menteri ASEM mengenai pendidikan di Berlin, Jerman (2008) dan di Hanoi, Vietnam (2009). Sedangkan pertemuan ketiga akan diselenggarakan di Denmark pada Mei 2011.

“Hasil-hasil konferensi di Limassol, Siprus, ini akan menjadi bahan masukan bagi pertemuan tingkat Menteri ASEM di Denmark mendatang” pungkas Danny.

ASEM merupakan platform dialog informal antara Asia dan Eropa sejak 1996. Agendanya ditentukan pada pertemuan puncak dua tahunan ketika para pemimpin pemerintahan bertemu dan mendorong proses dialog ASEM untuk mengarah pada kerjasama berorientasi aktivitas konkrit yang saling menguntungkan.

Proses informal ini dibarengi oleh mekanisme pertemuan tingkat menteri dan pejabat tinggi untuk membicarakan berbagai hal bersifat teknis yang menjadi perhatian bersama.(es/es)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s