Jusuf Kalla: Yang Salah Itu Dagang Politik

Pengusaha Jusuf Kalla kini sibuk mengurusi sejumlah kegiatan sosial dan kemanusiaan. Pekerjaannya pun makin bertambah terutama setelah bencana di Wasior, Mentawai dan erupsi Gunung Merapi. Di sela-sela kesibukannya itu, mantan orang nomor satu di Golkar itu, membagi pengalamannya di dunia bisnis dan pemerintahan yang pernah membesarkan namanya. Berikut petikannya.

Kapan Anda mulai terjun ke dunia bisnis?

Saya ini generasi kedua. Sebenarnya begitu tamat sekolah [kuliah], saya diminta menjadi Kepala Dolog Sulawesi Selatan. Saya tolak. Kebetulan waktu tahun 1960-an itu, seluruh perusahaan di Indonesia mengalami kemunduran karena krisis besar. Terjadi inflasi besar-besaran.

Jadi saya berpikir bahwa perusahaan harus dikembangkan ulang. Filosofi yang ditanamkan oleh ayah saya (Haji Kalla) adalah setiap perusahaan tidak hanya bermanfaat bagi perusahaan itu sendiri tetapi juga bermanfaat untuk mengembangkan masyarakat di sekitar kita. Di situlah saya mulai terjun ke dunia bisnis.

Apa bisnis yang diwariskan orangtua?

Sebenarnya tekstil. Toko tekstil tepatnya. Pada 18 Oktober 1952 ayah mendirikan perusahaan tekstil dan kemudian berkembang menjadi importir umum seperti semen, besi, dan lain-lain. Tetapi saya tinggalkan itu dan beralih ke mobil pada 1969, melalui NV Hadji Kalla Trading Company.

Bagaimana sampai menggandeng Toyota?

Sederhana saja. Waktu itu ketika tidak ada kerjaan, saya mulai pikir apa yang bisa

dibuat? Ya sudah, kita jual mobil saja. Nggak ada yang ngajarin. Modalnya cuma coba-coba saja. Asal tahu saja, saya impor Toyota lebih dulu dari Astra.

Anda meninggalkan bisnis yang digeluti orangtua?

Tidak juga. Kami mulai dengan menjual mobil, perdagangan tekstil, hasil bumi, ekspor impor, tapi caranya berbeda dengan yang lain. Saya lebih banyak mengembangkan ekonomi masyarakat di daerah melalui perkebunan seperti mente, cokelat, kopi, dan lain-lain. Saya berpikir kalau ekonomi berkembang, orang bisa beli mobil.

Saat itu saya berpikir mobil baru bisa laku kalau pendapatan masyarakat naik. Jadi saya harus berpikir bagaimana meningkatkan pendapatan masyarakat di Sulawesi Selatan supaya mereka bisa beli mobil.

Maka saya bicara jagung, kopi, kakao dengan semua pihak yang terkait. Padahal saya tidak punya usaha di bidang itu.

Sampai sekarang seperti itu. Hampir setengah waktu saya berada di daerah, karena filosofinya ialah kalau rakyatnya tidak berkembang bagaimana kita bisa berkembang juga. Jadi saya justru lebih banyak ke Jakarta bersama gubernur untuk mengurus kredit rakyat.

Itu sekitar 1970-an. Sulawesi Selatan maju karena itu. Saya pernah bikin 80 kali temu usaha dalam setahun. Temu usaha itu berupa pertemuan para petani cokelat dengan perbankan. Bukan hanya di Makassar, tetapi di daerah-daerah. Akhirnya produksi naik terus.

Otomatis penjualan mobil naik. Akibat penjualan mobil meningkat, maka rakyat butuh jalan. Jadi kita bikin perusahaan kontraktor untuk bikin jalan. Jadi, intinya bagaimana bisnis itu mengembangkan daerah. Itu konsepnya.

Apakah ada pengaruhnya bagi masyarakat?

Ya. Itu terlihat dari puncak keberhasilan Sulawesi Selatan itu pada saat krisis 1998. Saat produksi komoditas perkebunan naik, dolar AS melonjak menjadi Rp15.000. Semua orang menikmatinya.

Saya menggerakkan ‘Mari Ke Timur’ yang saya tuangkan dalam buku kecil saya. Semua tulisan ada di situ. Tujuan gerakan itu adalah agar ada keseimbangan ekonomi antara barat dan timur, sehingga semua daerah berkembang.

Ekonomi jalan kalau rakyat kuat. Itu intinya. Kalau rakyat kuat, kita juga kuat. Misalnya kita kembangkan pertanian, setelah itu mereka pasti butuh traktor. Saya pernah catat rekor penjualan traktor terbesar untuk rakyat di awal 80-an. Dalam setahun saya bisa jual 3.000 traktor hanya di Sulsel. Dari situlah mulai mekanisasi pertanian besar-besaran. Yang resmikan Presiden Soeharto.

Nama Kalla tetap dipertahankan?

Dulu itu semua perusahaan pakai nama pribadi. Kalla. Pertama, ini soal kehormatan. Kedua, menjaga eksistensi. Dulu kita tidak siap bubar karena nama pribadi, pendirinya.

Anda masih pegang kendali?

Saya berhenti total 1999 setelah jadi menteri. Yang melanjutkan adik bungsu perempuan. Dia sama anak saya di Makassar, satu dirut dan satu direktur keuangan. Jadi saya selalu bilang, di Makassar yang pegang dua setengah generasi.

Bagaimana menyiapkan generasi berikut?

Oh, Solihin anak bungsu saya yang aktif. Dia pegang beberapa perusahaan. Tidak semua anak pengusaha mewarisi insting bisnis orangtuanya.

[Solihin Kalla, sejak belum genap 10 tahun, adalah satu-satunya anak lelaki Jusuf Kalla yang kerap diajak menemani dalam sebuah pertemuan penting, seperti dengan perusahaan otomotif Jepang, Toyota].

Apakah Anda membatasi anak-anak dalam mengambil keputusan bisnis?

Saya selalu bilang ke anak-anak saya, selama kau bisa bayar hidup saya yang layak, yah sudah. Jadi terus terang saya tidak punya rekening. Saya selalu bilang, kirim saja ke rekening ibu.

Kondisi berbisnis di negeri ini sekarang?

Aturan pemerintah sekarang ini masih terlalu normatif. Bunga bank terlalu tinggi dan pembangunan infrastukturnya berjalan lamban, infrastruktur berjalan lebih lamban dari daripada pertumbuhan ekonomi. Ini yang harus diperbaiki.

Soal hubungan yang ideal antara bisnis dan politik?

Dagang dan politik itu baik. Yang salah itu kalau dagang politik. Karena itu kedua hal tersebut harus dipisahkan. Tidak boleh ada deal-deal politik untuk kepentingan komersial. Karena politik yang terbaik adalah untuk kepentingan umum.

Ada kesan Anda selalu melanggar peraturan saat menjabat di politik?

Tidak. Itu karena saya sering menggunakan cara berpikir dalam bisnis. Dalam bisnis orang mementingkan target yang akan dicapai, karena itu harus efisien. Orientasinya adalah pada hasil. Sementara di politik tidak. Di politik yang penting adalah proses. Proses harus sesuai UU, keppres, kepmen dan tidak boleh langgar. Saya tidak melanggar peraturan. Justru karena tidak sesuai, maka saya ubah peraturan yang penting target tercapai.

Bagaimana mengurusi bidang sosial?

Di bidang kemanusiaan yang penting keselamatan dan harga diri manusia. Di sana tidak bisa menggunakan peraturan yang kaku. Tetapi bisnis juga penting di sana, Karena itu PMI harus mandiri, dalam arti kuat secara finansial dan tidak bergantung banyak dari luar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s