Perlu Revolusi Berpikir tentang Bahari

Ketua Genderang Bahari Pontjo Sutowo mengatakan, diperlukan revolusi berpikir tentang bahari, sehingga potensi laut yang begitu besar bisa dikelola dengan baik dan dioptimalkan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat.

Sebab, masa depan kita ada di laut. Indonesia akan lebih maju, jika menguasai kembali alur perdagangan dunia dan mengembangkan pusat-pusat perdagangan dalam negeri yang secara geografis memiliki keunggulan strategis.

“Kedaulatan Indonesia di laut dewasa ini amat lemah. Kekayaan laut terutama ikan dicuri nelayan-nelayan asing. Semestinya laut dikelola untuk kesejahteraan rakyat,” katanya , pada Forum Konsultasi Kebijakan Bidang Kelautan yang mengambil tema Budaya Bahari Mendorong Perwujudan Bangsa Bahari, Rabu (1/12/2010) di Jakarta.

Menurut Pontjo, kekayaan alam hanya memberikan kesejahteraan dalam waktu panjang kepada pengelolanya, bukan kepada pemiliknya.

Pengelolaan hanya bisa dilakukan kalau kita memiliki pengetahuan, sumberdaya manusia dan peralatan/teknologi yang memadai.

Mengenalkan atau merubah cara pandang tentang laut/bahari membutuhkan perjuangan yang serius. Untuk itu perlu pemberdayaan rakyat, meningkatkan kemampuan rakyat untuk mengelola potensi laut.

Sektor yang dapat diolahkembangkan di laut ini, antara lain pelayaran, perikanan, pertanian, pertambangan, pemukiman, dan pariwisata, serta kesehatan.

“Sektor pariwisata dapat menjadi sektor andalan bagi bangsa kita ke depan, jika kika sanggup dan mampu mengembangkannya,” jelas Pontjo, yang juga penggagas dan pendiri Aliansi Kebangsaan dan Ketua Umum FKPPI.

Daud Aris Tanudirjo, dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang membahas Perkembangan Budaya Bahari di Kepulauan Nusantara mengatakan, budaya bahari paling tua di dunia muncul di kepulauan Nusantara.

Keyakinan ini semakin kyat ketika tim arkeologi berhasil menemukan jejak-jejak kehidupan manusia Testua Homo Erectus di Flores pada sekitar 800.000 tahun lalu.

Sebagian penduduk Nusantara yang telah menguasai teknologi canggih lalu berlayar ke berbagai penjuru dunia. Para pelaut itulah yang kemudian membantu komunitas di berbagai tempat untuk mengembangkan budaya mereka menjadi peradaban besar, seperti Mesopotamia, Mesir, Cina, dan India, jelasnya.

Sutejo K Widodo, dosen FIB Universitas Diponegoro Semarang mengatakan, sebagai negara maritim, Indonesia harus mampu mengontrol dan memanfaatkan laut untuk mencapai kesejahteraan dan kejayaannya. Negara maritim dibangun oleh visi maritim yang kuat dan jelas.

“Karakter penduduk dan pemerintah masih perlu dibangkitkan kembali sifat kemaritimannya melalui penanaman nilai-nilai budaya bahari,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s