Antisipasi Korupsi Bea Masuk Oleh-oleh

MULAI 1 Januari 2011, Direktorat Bea dan Cukai memungut bea masuk (BM) dan pajak oleh-oleh perorangan dari luar negeri yang nilanya lebih 250 dolar AS atau sekitar Rp 2.256.250.

Sedangkan BM keluarga, nilainya 1.000 dolar AS atau sekitar Rp 9.025.000. Apabila satu keluarga membawa barang melebihi nilai 1.000 dolar, dikenakan BM. Beleid atau kebijakan ini, diatur dalam Peraturan Menkeu Nomor 188/PMK.04/2010 tentang Impor Barang yang Dibawa Penumpang, Awal Sarana Pengangkut, Pelintas Batas dan Barang Kiriman.

Ketentuan yang sudah ada sejak 2007 itu, baru diundangkan 29 Oktober 2010. Pemerintah melalui Kahumas Ditjen Bea dan Cukai, Evi Suhartantyo membantah, beleid sebagai pengganti tiadanya pemasukan fiskal. Kita tahu, biaya fiskal seluruh penumpang, termasuk yang tak punya NPWP, dibebaskan per 1 Januari 2011.

Hingga 25 November lalu, BM yang diterima negara Rp 17,46 triliun. Artinya, BM melebihi target APBN-P 2010 Rp 17,1 triliun. Bea keluar yang diterima negara Rp 5,2 triliun, belum mencapai target 2010 Rp 5,45 triliun.

Berkaca pada data tax ratio RI yang relatif kecil dibanding negara-negara di Asia, kita patut apresiatif dan mendukung beleid ini, meski rumit dan berpotensi disalahgunakan oknum terkait. Penerimaan pajak RI terhadap produk domestik bruto sebagaimana dirilis Komisi IX DPR, hanya 11,7 persen.

Jauh di bawah Malaysia yang mencapai 20,17 persen, Thailand 17,28 persen, India 17,7 persen, Filipina 13,68 persen dan Singapura 22,44 persen. Fakta ini menjelaskan, bahwa kesadaran kita sebagai warga negara untuk membayar kewajiban pajak masih relatif rendah.

Risiko penerimaan negara minimal, menyulitkan pemerintah merealisasi program-program pembangunan bangsa, termasuk membangun infrastruktur yang menjadi sendi perkembangan ekonomi daerah maupun nasional. Ujung-ujungnya, “secara teoritis” sulit bagi negara menyejahterakan rakyat, apalagi mengentas rakyat miskin.

Kendati beleid rumit, tetap patut didukung semua pihak. Pertama, Permenkeu dibuat dengan latar dan pertimbangan manfaat negara. Kedua, beleid berpotensi membawa dampak positif, khususnya melecut minat belanja barang dalam negeri. Pasar yang bergairah, membuat produsen utilisasi berkembang.

Integritas Pejabat Potensi masalah utamanya justru pada integritas oknum pemungut BM. Penumpang yang harus direpotkan pencatatan dan pemeriksaan saat pergi dan kembali melalui custom declaration ber-CCTV, tetap bisa disiasati dan membuka peluang negosiasi.

Apalagi, jika Ditjen Bea Cukai tak punya data base semua jenis barang bawaan berikut harga fixed. Jika mental pejabat pemungut BM masih dalam “kuadran Gayus Tambunan,” target penerimaan pajak RAPBN 2011 yang dinaikkan Rp 96,2 triliun (sekitar 13 persen) dari target penerimaan perpajakan 2010, sulit diwujudkan.

Presiden menargetkan penerimaan perpajakan 2011 Rp 839,5 triliun, atau menyumbang 77 persen dari total pendapatan negara dan hibah. Kita berharap BM oleh-oleh ini tidak menjadi “ladang baru” untuk menggerogoti harta negara.

Pengalaman penerimaan pajak tahun 2009 patut jadi pengingat. Pemerintah menargetkan Rp 577 triliun, faktanya negara hanya meraup Rp 560 triliun. Penguapan pajak ini jika digabung pajak yang dikorupsi, penerimaan pajak negara sesungguhnya mencapai lebih Rp 700 triliun.

Angka yang fenomenal. Meretas reformasi perpajakan, Ditjen Pajak gencar beriklan dengan slogan, Hari gini tidak bayar pajak, apa kata dunia? Sangat familiar dan patut diamalkan. Jangan sampai slogan terpelesetkan menjadi, Hari gini bayar pajak, apa kata dunia?

Tax compliance atau kepatuhan memenuhi kewajiban pajak niscaya bagi warga yang mencintai negaranya. Namun, sikap dan mental pegawai BM maupun Pajak, wajib jadi sendi utama. Badan Pemeriksa Keuangan pun harus diberi otoritas memeriksa fiskus dalam menjalankan tugasnya.

Kebijakan perpajakan yang dibuat Menkeu dan DPR juga harus dikontrol ketat semua pihak, termasuk publik. Semoga gebrakan pajak 2011 bisa dinikmati rakyat dan mampu meningkatkan peradaban sekitar 31 juta rakyat miskin Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s