Peran BLK untuk Memberdayakan Buruh Migran

KASUS TKI luar negeri atau buruh migran bernama Sumiati yang mengalami penganiayaan di luar batas perikemanusiaan telah menampar martabat bangsa ini. Kasus-kasus buruh migran pada prinsipnya memiliki akar persoalan yang sama yakni masih buruknya sistem pelatihan dan kompetensi calon buruh migran.

Kendala bahasa dan ketrampilan kerja yang dialami oleh Sumiati dan buruh migran yang lain, telah menjadi pemicu terjadinya tindak kekerasan dan pelecehan terhadap buruh migran. Khususnya yang bekerja di sektor pembantu rumah tangga.

Masalah ketrampilan kerja dan kemampuan berkomunikasi atau berbahasa bagi buruh migran mestinya bisa diatasi dengan adanya Balai Latihan Kerja yang mempunyai tugas melaksanakan  penyiapan program penyelenggaraan pelatihan, uji kompetensi dan konsultasi kelembagaan, serta evaluasi pelaksanaan  pelatihan kerja yang berorientasi pada pasar kerja luar negeri.

Pada era liberalisasi tenaga kerja sekarang ini segmen lapangan kerja bidang pembantu rumah tangga sekalipun juga memerlukan standar kerja dengan cara pelatihan. Celakanya, banyak PJTKI yang asal-asalan memberikan pelatihan bagi calon buruh migran.

Sudah saatnya menata kembali fasilitas untuk meningkatkan kompetensi buruh migran yang diwujudkan dengan sertifikat dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang memiliki kredibilitas. Sertifikasi tersebut untuk menghadapi kompetisi global. Juga untuk menciptakan competitive advantage atau keunggulan daya saing melalui peningkatan kualitas dan produktivitas.

Bobot standarisasi dan sertifikasi bagi TKI sesuai dengan Standar Kompetensi Nasional Indonesia yang ditetapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi. Dengan demikian agar Sertifikasi Kompetensi TKI mendapat pengakuan dan kekuatan daya saing terhadap negara lain, pemerintah perlu menegosiasikan kepada negara lain pengguna jasaTKI. Supaya mempunyai nilai tawar yang baik.

Semua pihak harus memiliki persepsi yang sama bahwa pembantu rumah tangga juga merupakan jenis profesi yang menangani tatalaksana rumah tangga. Indonesia yang telah mendapatkan stigma pengekspor pembantu rumah tangga dalam jumlah yang sangat besar hendaknya juga bersungguh-sungguh meningkatkan kompetensi. Pemerintah hendaknya membuat komponen berbagai kompetensi secara matrik. Sehingga komponen seperti jenis pengetahuan, ketrampilan, kemampuan dan personalitas dapat terpetakan secara rinci pada saat calon buruh migran diberangkatkan.

Selama ini proses sertifikasi kompetensi bagi pencari kerja sangat menghambat penyerapan tenaga kerja. Bahkan tenaga kerja dari negeri ini cenderung kalah bersaing untuk memperebutkan posisi kerja di luar negeri akibat tidak adanya sistem sertifikasi kompetensi seperti yang dilakukan negara lain. Mestinya, pihak pemerintah daerah bertanggung jawab dalam hal sistem sertifikasi kompentensi yang baik.

Sayangnya lembaga yang bernama Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) masih belum bekerja secara efektif. Eksistensi BNSP sebetulnya diharapkan mampu mengelola dan mengembangkan portofolio kompetensi tenaga kerja nasional dan daerah. Sehingga spektrum lapangan kerja semakin meluas, terukur dan tertata.
Pasar tenaga kerja pada saat ini bisa dibilang belum menggembirakan. Kondisinya semakin memprihatinkan karena buruknya sarana latihan kerja. Ironisnya, Balai Latihan Kerja (BLK) milik Kemnakertrans yang tersebar di seluruh tanah air banyak yang terbengkalai bahkan telah beralih fungsi meskipun sudah diatur dalam Peraturan Menakertrans Nomor 02/MENSJ/VIII/2008.

Sudah saatnya digalakkan hubungan kemitraan dan sinergitas antara BLK dengan pihak swasta yang berorientasi kepada peningkatan kompetensi buruh migran. Dimulai dari pembuatan sistem kualifikasi terukur tentang kompetensi dan kapasitas lulusan balai latihan kerja tersebut. Pentingnya mengoptimalkan peran dan menambah jumlah BLK. Optimalisasi hendaknya juga memperluas aspek ragam profesi yang diajarkan.

Alangkah sedihnya kita melihat kondisi BLK banyak yang terbengkalai, hingga gedungnya rusak dan peralatannya menjadi besi tua. Mestinya, dengan ledakan jumlah pengangguran sekarang ini, pemerintah segera menambah kapasitas BLK dengan berbagai ragam profesi. Sayangnya, langkah pemerintah belum kearah itu.
Gerakan anti pengangguran yang dikumandangkan oleh Menakertrans Muhaimin Iskandar sebaiknya diwarnai dengan reinventing BLK sebagai bagian dari pendidikan nor formal yang bermuatan produktifitas dan kreatifitas. Reinventing dalam arti menemukan kembali arti penting BLK sesuai dengan semangat dan kemajuan jaman akan bisa memberikan bekal praktis bagi para penganggur khususnya calon buruh migran.

Efektivitas dan pelaksanaan pendidikan di BLK dapat dilihat perbedaannya pada kasus negara maju/industri dan negara berkembang. Pada negara maju seperti di Eropa dan Amerika pendidikan di BLK dipandang sebagai pendidikan lanjutan bagi kehidupan seseorang. Namun, di negara yang sedang berkembang, BLK masih dijalankan secara minimalis. Padahal ILO pernah merekomendasikan pentingnya pendidikan non formal seperti halnya BLK untuk meningkatkan kemampuan dari orang-orang yang memiliki kualifikasi pendidikan rendah agar mereka bekerja lebih efektif.

Dana pendamping dari pusat untuk pengelolaan BLK selama ini tidak mencukupi bahkan bocor disana-sini. Begitupun dana dari APBD sangat kecil. Masalah lain yang menyedihkan adalah selama ini para instruktur BLK kurang mendapatkan pengayaan wawasan, pelatihan tambahan melalui seminar atau studi banding, sesuai bidangnya masing-masing. Akibatnya keahlian mereka yang diberikan kepada peserta kursus menjadi kadaluarsa.

Meskipun sudah terlambat, pemerintah dalam hal ini Kemnakertrans dituntut untuk segera melakukan langkah cepat guna mengoptimalkan daya tampung BLK. Muatan yang diberikan oleh BLK hendaknya mampu memenuhi tren kebutuhan pasar tenaga kerja lokal hingga diluar negeri. Berbagai portofolio kompetensi pasar tenaga kerja di luar negeri hendaknya juga menjadi muatan utama di BLK.

Faktor yang pantas untuk digarisbawahi adalah bahwa para  peserta di BLK akan tertancap akan martabat keprofesian, sekalipun itu profesi tatalaksana rumah tangga alias pembantu rumah tangga.

Diharapkan BLK juga mampu membangun positivity yang kuat bagi calon tenaga kerja khususnya buruh migran. Karena profesi apapun bentuknya bila ditekuni secara konsisten dan bersungguh-sungguh akan mendatangkan reward yang baik. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s