Makassar Kota Dunia Butuh Rp 48 Triliun

TEMPO Interaktif, Makassar – Mewujudkan Makassar sebagai kota dunia dibutuhkan dana sebesar Rp 48 triliun. Besaran anggaran ini dirumuskan oleh Tim Tanjung, pemenang sayembara desain reklamasi ”Makassar Menuju Kota Dunia. Akhmad Zaki Yamani, ketua tim, mengatakan bahwa anggaran ini telah disesuaikan dengan rancangan reklamasi.

Dalam rancangan pembangunan reklamasi pantai utara Makassar, tim Tanjung memberi nama Green Water Front City (GWFC). Pembangunan ini dibagi atas wilayah terpadu maritim dan wilayah terpadu pelabuhan. ”Pembangunan kota Makassar rencananya dibagi dua. Pembangunan pelabuhan terpadu dengan dana Rp 28,5 triliun dan pembangunan maritim terpadu sebesar Rp 20 triliun,” ujar Akhmad saat memaparkan konsep itu di depan Sekretaris Kota Anis Kama dan para pemimpin instansi di Makassar, Selasa (23/11).

Akhmad mengatakan, anggaran ini akan dianggarkan dalam anggaran pusat. Sebab, anggaran daerah kemungkinan tidak cukup. Anggaran ini belum termasuk pembangunan fisik, pembebasan lahan dan penyediaan infrastruktur seperti jalan. Menurut Akhmad, besaran anggaran ini baru sebatas reklamasi pantai seperti penimbunan area.

Konsep GWFC menerapkan kota mandiri yang mengedepankan sektor wisata dan niaga. Letak pelabuhan Soekarno-Hatta dipindahkan di sebelah selatan kawasan terpadu maritim, tidak jauh dari kampus politeknik ilmu pelayaran. “Di antara kawasan terpadu maritim dan kampus Politeknik ada kawasan riset kemaritiman untuk penelitian,” katanya.

Di kawasan terpadu maritim nantinya dibangun kawasan wisata kuliner, kawasan bakau, pelabuhan perikanan, industri maritim, dan kawasan bisnis maritim. Sedangkan pelabuhan Soekarno – Hatta akan diperbesar dengan pembangunan kawasan terminal peti kemas. Selain menggarap terpadu maritim dan kawasan terpadu pelabuhan, tim Tanjung juga mengoptimalkan sungai Tallo untuk jalur transportasi air, serta wisata ikan. “Di sepanjang aliran sungai Tallo akan dibangun dermaga sebanyak tiga buah agar masyarakat dapat membeli ikan segar,” kata Akhmad.

Tim juri sayembara ini membagi penilaian atas aspek penataan ruang dan aspek pembangunan karakter manusia. Menurut salah satu juri dari Ikatan Arsitektur Indonesia Muaz Yahya, keunggulan tim Tanjung ini karena rancangannya mampu menyesuaikan diri dengan rancangan tata ruang wilayah kota Makassar. ”Penilaian ini berlangsung tiga bulan sejak September lalu,” kata Muaz.

Adapun juri dari aspek kearifan lokal, Ishak Ngeljaratan, mengingatkan agar pemenang tetap menjaga karakter kota Makassar. ”Pembangunan Makassar menuju kota dunia hendaknya menjadikan Makassar semakin Makassar,” ujar dia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s