Kejaksaan Periksa Bekas Bupati Sidoarjo

TEMPO InteraktifSIDOARJO – Kejaksaan Negeri Sidoarjo, Selasa (23/11), memeriksa bekas Bupati Sidoarjo Win Hendrarso terkait dugaan korupsi dana kas daerah Rp 2,2 miliar. Win dianggap sebagai pejabat yang bertanggungjawab dan mengetahui raibnya dana tersebut.

Win menjalani pemeriksaan selama empat jam, dan baru berakhir pukul 18.00 WIB. Usai pemeriksaan Win enggan menjelaskan materi pertanyaan yang diajukan penyidik.

“Opo rek, opo? (Ada apa),” kata Win sambil meninggalkan kantor kejaksaan mengendarai Toyota Kijang Inova L 1881 X. Di dalam mobilnya, Win didampingi dua orang. Salah seorang di antaranya adalah pengacara bernama Sutrisno. Namun Sutrisno juga enggan memberikan keterangan.

Kepala Kejaksaan Negeri Sidarjo Sadiman menjelaskan Win Hendrarso diperiksa sebagai saksi atas kasus korupsi tersebut. Namun, ia enggan menyebutkan materi pemeriksaan serta perkembangan penyidikan kasus korupsi tersebut. “Kami tidak bermaksud menutupi informasi. Penyidikan masih berlanjut,” ujarnya.

Sadiman malah menyerahkan Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negera Kejari Sidoarjo Setiawan Budi Cahyono untuk memberikan keterangan kepada wartawan. Namun, Setiawan justeru tak berani wartawan meminta keterangan Sadiman.

Sebelumnya, kejaksan telah menyita uang tunai Rp 309 juta sebagai barang bukti. Uang tersebut berasal dari bekas ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sidoarjo Arli Fauzi sebagai pengembalian pinjaman pribadi.

Kejaksan telah menetapkan pemegang kunci brankas dana kas daerah Agus Dwi Handoko sebagai tersangka. Agus ditahan sejak 28 Oktober.

Agus dianggap berperan penting dalam perkara raibnya dana kas daerah tersebut. Sebab, tersangka yang berwenang menjaga keamanan uang tunai Rp 2,4 miliar yang disimpan dalam brankas.

Dugaan korupsi ini diuangkap berdasarkan hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan Jawa Timur. Selama penyelidikan, jaksa menemukan fakta bahwa dana kas daerah Kabupaten Sidoarjo Rp 2,4 miliar disimpan dalam bentuk tunai di brankas. Setelah diselidiki, ternyata hanya tersisa Rp 250 juta. Selebihnya raib tanpa bukti pengeluaran yang jelas.

Tersangka dijerat pasal berlapis. Yakni, pasal 2 Undang-Undang Tindak Pindana Korupsi juncto pasal 55 juncto pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Selain itu, terdakwa juga dikenakan pasal 3 Undang-Undang Tindak Pindana Korupsi juncto pasal 55 juncto pasal 56 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, serta pasal 8 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. EKO WIDIANTO.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s