Putra Daerah

Sejumlah anggota DPRD Lingga berharap Pemkab bisa memperjuangkan putra daerah untuk lebih diutamakan lulus dalam penerimaan CPNS 2010. Demikian berita Batam Pos.

Berita ini pun dikomentari pembaca. Bukan pada pelaksanaan CPNS tetapi pada frasa ‘putra daerah’. Di laman batampos.co.id ada yang setuju ada yang kontra, mengapa harus putra daerah.

Putra daerah kembali disoal. Putra daerah dimaknai sangat sempit. Padahal di berita tersebut frasa ‘putra daerah’ dimaknai lebih luas. Pengalaman tahun-tahun sebelumnya menurut Ketua Komisi I DPRD Lingga Rudi Purwonugroho CPNS yang lulus hanya beberapa tahun mengabdi di Lingga kemudian mengajukan pindah.

Mereka itu ialah CPNS yang bukan ‘putra daerah’ maksudnya bukan tinggal di Lingga sejak awal. Karena itu mereka kebanyakan tidak krasan lalu pindah. Melamar di Lingga hanya karena pertimbangan saingan yang longgar atau karena ada posisi sesuai kelulusan saat kuliah sementara di tempat asal tidak ada.

Fenomena ini pun dialami oleh Natuna. Di kawasan yang relatif masih sepi anak muda yang melamar ke sana hanya menjadikan daerah sebagai batu loncatan.

Diskusi di laman batampos.co.id tersebut menarik karena rupanya masih ada pemikiran sempit terhadap ‘putra daerah’. Di tahun 2020 mendatang Indonesia diperkirakan akan memasuki era Bonus Demografi.

Sebuah era dimana pertumbuhan penduduk sangat stabil dengan jumlah usia tenaga kerja 3 kali lebih banyak daripada yang bukan usia tenaga kerja. Kala itu diperkirakan Indonesai akan sangat berkembang. Lapangan kerja terbuka di mana-mana.

Pada saat itu frasa ‘putra daerah’ bisa saja menjadi tidak diperlukan lagi karena industrialisasi menuntut tenaga kerja yang siap pakai dari daerah manapun. Oleh karena itu mulai saat ini genarasi muda harus menyiapkan diri untuk menyongsong masa keemasan itu. Pemerintah daerah pun harus menggenjot ketrampilan dan pendidikan anak mudanya.

Fenomena lain dari nukilan berita di atas ialah, ada patahan pemenuhan dan permintaan. Bisa jadi kualitas putra-putri daerah harus ditingkatkan sehingga ia bisa bersaing dengan pendaftar lain yang nota bene dari luar daerah.

Atau memang di daerah tersebut tidak banyak anak muda yang memenuhi kualifikasi seperti yang dipersyaratkan penerimaan CPNS. Di Anambas  misalnya sampai 16 November lalu baru 11 pelamar yang tercatat. Kemana putra – putri Anambas?!

Natuna pun mengalami “sakit hati” dijadikan batu loncatan oleh CPNS yang telah diterima jadi PNS. Mereka biasanya bukan orang Natuna, tidak betah mereka pun pindah dengan berbagai alasan.

Natuna pun berbenah. Mereka sekolahkan putra-putri Natuna ke Pontianak agar menjadi sarjana yang dibutuhkan oleh Natuna.

Adalah hal wajar jika daerah ramai seperti Batam dan Tanjungpinang digemari. Bak laron di musim hujan, ia datang di tengah cerahnya lampu. Daerah yang masih belum memiliki infra struktur lengkap seperti Batam tentu tidak terlalu menarik. Sebuah kewajaran alam.

Tentu saja daerah tidak bole berpangku tangan. Harus ada upaya dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM di sana. Untuk itu daerah bisa saja memberikan persyaratan ketat bagi CPNS yang diterima. Sebuah kontrak disiapkan untuk tidak pindah selama 10 tahun, misalnya. Dengan alasan apapun kontrak tersebut harus dijalankan.

Cara tersebut dilakukan sembari meningkatkan kulitas generasi muda untuk menempati posisi strategis pembangunan. Pembangunan memang ada di pundak generasi muda. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s