Pembangunan Manusia Perdesaan Mengatasi Kemiskinan

Oleh Harry Jusron, Kepala Bidang Evaluasi Riset Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Masyarakat, Kementerian Riset dan Teknologi

Dari buku Human Development Report, terbitan tahun 1990, dijelaskan bahwa sejatinya ada tiga buah komponen utama untuk mengukur tingkat pembangunan manusia. Pertama, harapan hidup saat kelahiran. komponen ini dimaksudkan untuk mengukur tingkat kesehatan dan konsumsi nutrisi. Kedua, adalah tingkat ‘melek’ huruf, ini adalah refleksi dari akses mendapatkan pendidikan dasar. Sedangkan komponen ketiga adalah pendapatan yang diperlukan untuk membangun kehidupan yang layak, dapat diwakili oleh produk domestik bruto (PDB) per kapita, atau GDP per kapita. Membandingkan tiga komponen ini, di tahun 1990 dan 2007, ternyata untuk Indonesia semuanya meningkat. Tingkat harapan hidup saat kelahiran dari 62 tahun menjadi 70,5 tahun. Tingkat melek huruf dari 72,5% menjadi 92%, sedangkan PDB per kapita dari US$645 naik menjadi US$3.975. Apakah peningkatan ini sudah cukup cepat? Membandingkannya dengan beberapa negara tetangga dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan ini, juga untuk mengetahui perbandingan regional.

Data untuk perbandingan didapatkan dari laporan tahunan beberapa badan internasional seperti Bank Dunia, Unescap dan UNDP. Tingkat harapan hidup saat kelahiran, capaian Malaysia pada 1990 adalah 73,5 tahun, kemudian meningkat menjadi 74,1 pada 2007. Demikian pula Singapura pada tahun-tahun yang sama, awalnya hanya 74,7 tahun, naik menjadi 80,2 tahun. Adapun Thailand awalnya hanya 68 tahun, meningkat menjadi 68,7 tahun. Filipina yang awalnya hanya 63,4 tahun meningkat menjadi 71,6 tahun. Rata-rata harapan hidup dari negara-negara tetangga ini sudah di atas 71 tahun, sedangkan Indonesia hanya 70,5 tahun.

Tingkat melek huruf dalam satuan %, tahun 1990 Malaysia mencapai 74,4, naik menjadi 91,9 di tahun 2007, Singapura untuk tahun-tahun yang sama, dari 83,2 naik menjadi 94,4. Sedangkan Thailand dari 89,4, naik menjadi 94,1. Filipina dari 91,2 naik menjadi 93,4. Tingkat melek huruf dari negara-negara tetangga, menunjukkan peningkatan, tertinggi 17,5 yang dicapai Malaysia, tetapi Indonesia lebih tinggi peningkatannya yaitu 19,5.

Untuk PDB per kapita dalam satuan US$, Malaysia di tahun 1990 mencapai 2.432, naik menjadi 7.031 di tahun 2007, Singapura untuk tahun yang sama, dari 12.091 naik menjadi 36.384, sedangkan Thailand dari 1.908 naik menjadi 3.689, dan Filipina dari 710 naik menjadi 1.624, beberapa negara naik 3 kali lipat, Indonesia meningkat 6 kali lipat lebih.

Indonesia berhasil meningkatkan PDB per kapita, tingkat melek huruf dan tingkat harapan hidup saat kelahiran, dengan kecepatan yang melebihi negara-negara tetangga. Apakah peningkatan pembangunan manusia ini telah menyejahterakan rakyat?

Penduduk miskin dan pertumbuhan ekonomi
Data tentang kemiskinan dari Human Development Report tahun 2009 menyebutkan jumlah penduduk miskin di Malaysia ada 3,9% dari populasi, Singapura 3,8%, Thailand 8,5%, Filipina 12,4%, sedangkan di Indonesia 17%. Data ini menunjukkan jumlah penduduk miskin Indonesia jauh lebih besar daripada negara-negara tetangga, karena persentasenya besar dan Indonesia memiliki populasi yang terbesar. PDB per kapita yang lebih tinggi dibandingkan Thailand dan Filipina, tetapi jumlah penduduk miskin cukup banyak. Ini adalah indikasi adanya sekelompok kecil penduduk yang penghasilannya sangat besar bila dibandingkan dengan kebanyakan penduduk.

Salah satu indikasi meningkatnya kesejahteraan rakyat adalah berkurangnya jumlah penduduk miskin. Pengurangan ini sangat ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi negara dan pemerataan penghasilan.

Dalam sebuah keluarga, utamanya pendapatan dibelanjakan kebutuhan pokok seperti makanan, pendidikan, dan kesehatan. Untuk penduduk miskin, hampir seluruh penghasilan dibelanjakan kebutuhan pokok, sehingga tidak tersisa untuk hal lain. Semakin besar persentase belanja kebutuhan pokok, semakin miskin keluarga tersebut.

Pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi perdesaan
Bulan Juli 2010, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di perdesaan lebih banyak daripada di perkotaan. Ini berarti upaya untuk mengurangi penduduk miskin di perdesaan harus lebih besar jika dibandingkan dengan di perkotaan. Upaya tersebut antara lain dengan memberikan pendidikan formal untuk anak usia sekolah, agar penghasilan meningkat, orang dewasa diberi pelatihan keterampilan untuk menghasilkan barang ekonomi serta pemasarannya. Setelah penghasilan meningkat, gizi dan nutrisi untuk keluarga tidak lagi menjadi impian.

Ketersediaan pendidikan gratis untuk anak usia sekolah di seluruh desa adalah hal utama agar ekonomi perdesaan tumbuh dan kecepatannya pun akan terus bertambah. Tetapi, bila banyak orang muda yang potensial yang pindah ke kota besar, pertumbuhan ekonomi akan berkurang, karena desa akan kehilangan ‘penggerak’ ekonomi. Penyebab perpindahan adalah mencari pekerjaan atau melanjutkan pendidikan. Karena itu, setelah pendidikan tersedia, industri kecil perdesaan yang dimotori perusahaan daerah harus segera tersedia untuk menyerap tenaga kerja lulusan sekolah menengah lokal dan menarik lulusan perguruan tinggi di kota, juga untuk menyerap hasil kerja masyarakat desa. Pelaksanaan pendidikan formal dan pelatihan keterampilan di seluruh desa akan memerlukan banyak guru yang berdedikasi tinggi, karena jumlah desa di Indonesia sangat banyak. Karena itu, imbalan yang memadai dan kepastian karier perlu disediakan. Ini adalah salah satu daya tarik untuk menjadi guru di desa.

Kesehatan rakyat juga diperlukan. Karena itu, sarana berobat gratis untuk bayi hingga orang tua sebaiknya ada di setiap desa, setidaknya desa terpencil lebih sering didatangi puskesmas keliling atau dikunjungi dokter. Pencegahan agar tidak sakit juga harus dilakukan, hal ini dapat dilakukan melalui penyuluhan dan pengadaan sarana layanan umum. Nutrisi dan makanan tambahan yang bergizi untuk anak-anak balita sebaiknya sering diberikan secara cuma-cuma, demikian pula imunisasi, kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan melalui pos pelayanan umum.

Perbedaan antara kota dan desa adalah keadaan alam yang masih asri, kepadatan penduduk masih rendah, demikian pula infrastruktur yang sederhana, tetapi kekerabatan masih sangat kuat. Karena itu, pelatihan keterampilan dan kegiatan produksi akan lebih baik berbasis pada keunggulan alam dan kekerabatan, seperti pertanian-peternakan dan pengolahannya serta kerajinan. Pemasarannya akan lebih berkembang bila dipadukan dengan budaya yang dikemas dalam kegiatan pariwisata.

Beberapa hal dari uraian di atas telah ada dan dilaksanakan, tetapi masih banyak desa yang belum melakukannya, sehingga diperlukan keinginan yang kuat dari tiap-tiap pemerintah daerah (pemda) untuk melaksanakannya. Karena, lebih mengetahui karakteristik dari tiap desa. Maka sebagai ujung tombak pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi adalah pemda, demikian pula biaya yang diperlukan, sebaiknya ditanggung dari APBD dan APBN.
Semoga di masa mendatang, desa menjadi sentra pertumbuhan ekonomi dan budaya, sehingga tidak terjadi lagi eksodus kaum muda dari desa ke kota.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s