Mendorong Pembangunan Pro-Desa

Oleh: Wilson Lalengke, MA, MSc, Dosen Universitas Bina Nusantara Jakarta, Alumnus Utrecht Universit

Isu pembangunan desa selama ini belum populer sebagaimana isu pembangunan kota. Kecenderungan yang ada, pemerintah lebih banyak menitikfokuskan program-program pembangunan di kota-kota besar. Imbas negatifnya, kemajuan desa menjadi jauh tertinggal dikomparasikan kawasan kota.

Di kota berdiri bangunan-bangunan megah dengan aneka fasilitas publik yang lengkap. Hotel-hotel, mal, taman rekreasi, sarana olah raga dan tempat-tempat hiburan serta perkantoran mendominasi kawasan perkotaan. Sedangkan di desa, kondisinya berbeda jauh. Desa penuh hamparan lahan pertanian, perkebunan, sungai dan landscape alam lain.

Arah pembangunan di negeri ini idealnya jangan melulu menjadikan kota sebagai prioritas. Hendaklah arah dan kebijakan pembangunan, porsinya sudah harus diubah. Desa dijadikan sebagai mercusuar pembangunan di masa kini. Bukankah dari desa, sumber-sumber bahan pangan dan kebutuhan hidup pokok didatangkan?

Apresiasi Golkar

Langkah elite Partai Golkar yang mengusung pembangunan berbasis desa, yang dijadikan tema sentral Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) I Partai Golkar yang baru saja usai dihelat di Jakarta, Minggu (17/10) lalu, sungguh cerdik. Gagasan tersebut pantas diapresiasi oleh kader-kader Partai Golkar, baik yang berada di tingkat pusat maupun daerah.

Dengan hadirnya tokoh-tokoh penting partai politik berlogo ‘pohon beringin’ itu dalam Rapimnas I Partai Golkar, seperti Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie, mantan Presiden RI BJ Habibie, Akbar Tanjung, Agung Laksono dan lain-lain, semakin mengokohkah pula bahwa Partai Golkar yang dulu selalu menjadi pemenang dalam Pemilu semasa Orde Baru, tetap solid hingga kini. Meskipun, sebelumnya sempat pernah terjadi “konflik internal” dalam partai tersebut menyusul langkah elite-elite partai itu yang mendirikan partai politik baru. Namun, hal itu wajar, sebagai bagian dari dinamika politik yang selalu berjalan pasang-surut.

Menyimak subtema yang diangkat melalui Rapimnas I Partai Golkar, yakni: “Dengan Semangat Nasionalisme, Kita Bangun Indonesia dari Desa untuk Kesejahteraan Rakyat”, terlihat ada pesan unik yang perlu diperhatikan. Mengapa justru desa yang di-blow up oleh elite Partai Golkar tersebut?

Seperti diketahui bersama, selama ini pergerakan dan dinamika aktivitas partai-partai politik kebanyakan menjadikan kawasan perkotaan sebagai basis dalam mencari kader atau massa. Sedangkan kawasan pedesaan, tak banyak dilirik sebagai tambang suara yang bisa menggenjot perolehan suara partai politik pada hajatan Pemilu dan atau Pilkada.

Desa, yang diidentikkan dengan daerah yang memiliki kebudayaan tradisional, dengan iklim lingkungan yang masih alami serta karakter penduduk desa yang ramah tamah, menjadi keistimewaan yang tidak sulit ditemukan di lingkungan perkotaan.

Para petinggi Partai Golkar jeli melihat kenyataan tersebut. Meski sebelumnya gagal dalam menggulirkan gagasan di parlemen agar setiap desa diberikan dana Rp 1 miliar melalui pos APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja negara) 2011, upaya untuk merealisasir rencana yang sudah diusung di atas tetap ditindaklanjuti dengan tetap menjadikan desa sebagai proyek prospektif untuk bisa menaikkan citra partai.

Bukan tanpa alasan. Langkah elite Golkar mendekati massa yang berada di desa, dapat dikatakan sebagai langkah brilian. Penduduk miskin yang mayoritas tinggal di kawasan pedesaan, dan sebagian lagi menempati kawasan pinggiran kota, sangat tepat sebagai penggalangan kader partai. Dengan menggulirkan program-program yang pro-desa, serta dengan kebijakan-kebijakan yang berakar pada pengorientasian keluarga miskin, target Partai Golkar untuk memenangkan Pemilu 2014 dapat optimis dicapai.

Kawasan desa yang menjadi basis penduduk miskin masih cukup besar. Hal ini perlu ditemukan jalan keluarnya agar tingkat kesejahteraan di kawasan pedesaan dapat diberdayakan. Dengan menjadikan desa sebagai mercusuar pembangunan, diharapkan percepatan pembangunan kawasan Indonesia segera terealisasi. Yang patut diperhatikan, karena masyarakat desa memiliki pemikiran yang khas, tidak seperti masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaaan, diperlukan juga pendekatan-pendekatan berbasis ‘kebudayaan pedesaan’.

Hanya saja para petinggi Partai Golkar tidak boleh terlalu over estimate dengan menerapkan kebijakan di atas untuk menaikkan citra partai. Perlu didukung langkah lain, dengan tetap tidak meninggalkan strategi dan kebijakan partai yang juga propenduduk kota.

Kota dan desa adalah dua kawasan yang sama-sama memiliki prospek menjanjikan dalam menguatkan eksistensi partai politik, dengan tujuan akhir bisa mensejahterakan kehidupan bangsa. Inilah pedoman yang selalu dipegang oleh setiap kader partai ini. ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s