MEMPERTEBAL RASA KEBANGSAAN

Oleh: Prasetyo

Benedict Anderson (1991) melihat nasionalisme sebagai sebuah ide atas komunitas yang dibayangkan, imagined communities. Dibayangkan karena setiap anggota dari suatu bangsa, bahkan bangsa yang terkecil sekalipun, tidak mengenal seluruh anggota dari bangsa tersebut. Nasionalisme hidup dari bayangan tentang komunitas yang senantiasa hadir di dalam pikiran setiap anggota bangsa yang menjadi referensi identitas sosial.

Sedangkan dalam pandangan Ernest Renan (1823-1892), nasionalisme muncul karena berakar dari solidaritas atas kesamaan nasib (sejarah), kesamaan wilayah (teritorial), kesamaan kultural (budaya) dan kesamaan bahasa. Kesemuanya merupakan modal untuk membentuk sebuah nation. Dalam definsi yang lebih luas, akar kuatnya nasionalisme sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kuatnya solidaritas sosial, solidaritas nasional, dan solidaritas kebangsaan.

Dalam langgam sejarah kita, nasionalisme Indonesia terbentuk melalui proses panjang perjuangan seluruh entitas di negeri ini. Sejarah mencatat perjuangan itu mengemuka sejak era Kebangkitan Nasional 1908 yang sering disebut sebagai era gelombang nasionalisme pertama di Indonesia. Sejak diberlakukan Politik Etis 1901, kesempatan kaum pribumi untuk mengenyam pendidikan mulai terbuka secara luas. Terbukanya ruang pendidikan inilah menjadi faktor penting tumbuhnya kesadaran kaum pribumi untuk berpikir maju ke depan.

Seiring berjalannya waktu, kesadaran akan pentingnya persatuan nasional tersebut juga merasuk ke dalam sanubari entitas-entitas golongan dan politik hampir di seluruh kepulauan Nusantara. Pada akhirnya, sejarah menjadi saksi sebuah deklarasi Sumpah Pemuda 1928 yang mengubah semangat ”keakuan” menjadi ”kekamian” menuju ”kekitaan.” Sumpah Pemuda 1928 memang merupakan tonggak nasionalisme yang memberikan injeksi semangat persatuan dan kebangsaan menuju kemerdekaan Indonesia.

Babak sejarah selanjutnya, pada era perjuangan menuju kemerdekaan 1945, nasionalisme Indonesia kerap kali diuji bukan hanya melalui perang urat syaraf tetapi juga melalui perang fisik. Kehendak dan semangat juang yang sangat kuat untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan dari bangsa asing pada akhirnya membuahkan hasil yang gemilang, yakni terwujudnya Proklamasi Kemerdekaan NKRI 17 Agustus 1945.

Perjuangan mempertahankan dan mengelola nasionalisme Indonesia memang tidak hanya berhenti ketika penjajah meninggalkan bumi pertiwi. Sejarah mencatat, perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga tidak kalah beratnya dibandingkan dengan perjuangan fisik mengusir penjajah. Era Orde Lama dan Orde Baru menjadi saksi bagaimana perjuangan kita dalam mengelola keragaman dan pluralisme. Singkatnya, konflik politik dan konflik internal di dalam negeri menjadi tantangan hebat sepanjang pemerintahan Indonesia merdeka.

Berkali-kali bangsa Indonesia menghadapi tantangan disintegrasi dan konflik sosial-horisontal seperti ancaman disintegrasi di Aceh, Maluku, Papua, dan daerah-daerah lainnya. Namun, dengan semangat kebersamaan dan nasionalisme, terbukti kita mampu mempertahankan NKRI sebagai satu kesatuan yang utuh baik secara teritorial maupun secara politik.

Tantangan Kebangsaan

Pada masa kini, kita dihadapkan pada persoalan yang tak kalah menantang dalam upaya mempertahankan dan mengelola nasionalisme. Dalam hemat saya, tantangan tersebut menjelma dalam tiga hal utama. Pertama, konflik dan kekerasan yang masih merebak. Sebagaimana kita pahami, bahwa konflik dan kekerasan telah menjadi semacam budaya laten di dalam masyarakat kita. Baik itu konflik vertikal yang melibatkan konflik antarelite politik. Maupun konflik horisontal yang melibatkan kekerasan di akar rumput.

Sejauh ini, fenomena kekerasan tersebut nampak begitu nyata dalam keseharian kita. Contoh mutakhir ialah konflik dalam kasus skandal Century. Konflik ini melibatkan para elite politik, yakni lembaga eksekutif (pemerintah), legislatif (DPR) dan Yudikatif (Penegak Hukum). Kemudian, marak pula konflik antara negara dan masyarakat yang tergambar pada kasus lumpur Lapindo serta pertikaian seputar pembongkaran makam Mbah Priok di Koja, Jakarta Utara. Sementara, konflik yang melibatkan antarwarga masyarakat terlukis pada kekerasan yang terjadi di Duri Kosambi, Jakarta Barat. Dalam konteks ini, buntunya ruang komunikasi serta sikap arogansi aparat telah memicu pertumpahan darah yang dahsyat.

Selebihnya, kita juga mencatat sejumlah kekerasan lewat aksi terorisme, bentrokan antarpendukung dalam Pilkada, tawuran antarpelajar dan antarmahasiswa, tawuran antarkampung, serta pertikaian antarsuporter sepak bola. Sampai kapan kita akan digerogoti dan disandera konflik multidimensi ini?

Konflik multidimensi ini diperlukan solusi. Pemerintah dan aparat terkait harus mampu mengelola konflik (resolusi konflik) yang jitu agar konflik yang terjadi tidak berakibat destruktif bagi nasionalisme Indonesia.

Kedua, persoalan kemiskinan dan pengangguran. Persoalan ini juga dapat disebut sebagai persoalan laten yang menghantui pembangunan kita. Kemiskinan dan pengangguran adalah musuh utama yang kerap kali merongrong kedaulatan kita sebagai bangsa. Letupan-letupan konflik vertikal maupun horisontal pada umumnya disebabkan karena persoalan ekonomi. Karena itu, pemenuhan hajat hidup orang banyak (ekonomi rakyat) harus menjadi prioritas pembangunan kita.

Ketiga, persoalan kesenjangan dan keterbelakangan. Persoalan ini berakar pada pemenuhan keadilan. Kinerja ekonomi kita yang masih belum sepenuhnya adil mengakibatkan kesenjangan ekonomi. Misalnya, kesenjangan ekonomi antar pelaku, antar wilayah, antar sektor, dan antar kelompok pendapatan. Sebagai contoh, menurut majalah Forbes (11/3/2009), di antara nama-nama orang kaya kelas dunia terselip lima nama orang kaya dari Indonesia yang memiliki harta di atas 1 miliar dollar AS. Mereka adalah Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, dua bersaudara pemilik Grup Djarum. Kemudian Sukanto Tanoto, pemilik imperium bisnis Raja Garuda Mas (RGM) Grup; Martua Sitorus, pendiri Wilmar International; serta Peter Sondakh, pendiri Grup Rajawali. Mereka pula yang kini menjadi lima orang terkaya di Indonesia.

Sementara di sudut lain, tingkat kemiskinan dan pengangguran masih cukup mengkhawatirkan. Sebagaimana dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS: 2009), jumlah penduduk miskin Indonesia saat ini sebesar 14,15 persen atau sebanyak 32,53 juta jiwa. Sedangkan tingkat pengangguran sebagaimana dilaporkan BPS menunjukkan, pada Agustus 2008 mencapai 9,39 juta jiwa atau 8,39 persen. Pada Februari 2009 angka pengangguran terbuka berkurang menjadi 9,26 juta atau 8,14 persen.

Ketiga persoalan di atas masih mengemuka di dalam keseharian kita dan menjadi tantangan bagi terwujudnya negara yang kuat. Karena itu, sudah menjadi tugas dan kewajiban seluruh anak bangsa untuk kembali merajut nilai-nilai nasionalisme di atas dasar keadilan sesuai dengan empat pilar negara yakni Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI.

Merajut Kembali

Ke depan, tiada pekerjaan besar kita semua kecuali berusaha dengan sekuat tenaga untuk terus merajut rasa kebangsaan dan nasionalisme. Diperlukan kesadaran kolektif serta kebersamaan (gotong royong) untuk menguatkan nasionalisme Indonesia di masa depan.

Berpijak pada kaidah tersebut, kita harus merumuskan strategi yang komprehensif meliputi revitalisasi solidaritas sosial, solidaritas nasional dan solidaritas kebangsaan kita, di mana ketiga hal ini sesungguhnya telah menjadi jiwa bangsa kita. Solidaritas sosial, solidaritas nasional, dan solidaritas kebangsaan Indonesia, secara eksplisit telah terumuskan di dalam empat pilar negara kita yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Keempat pilar tersebut menjadi suatu ”doktrin” bagi bangsa kita dalam mengeja langkah pembangunan. Karena itu, selain menjadi kurikulum wajib di bangku sekolah, keempat pilar tersebut harus senantiasa disosialisasikan dan dibudayakan di luar sekolah (masyarakat).

Menguatkan pembangunan nasionalisme dan mempertebal rasa kebangsaan pada akhirnya dapat terwujud apabila kita semua menyadari bahwa Indonesia merupakan ”rumah” bersama yang kaya akan potensi dan keberagaman yang harus senantiasa dijaga dan dilestarikan. Itulah jiwa kita, jiwa bangsa Indonesia. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s