DPR Perlu Pertimbangkan Kodifikasi Hukum Pemilu

Wakil Ketua Konsorsium Reformasi Hukum Nasional (KRHN) Yulianto mengatakan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) perlu mempertimbangkan kodifikasi hukum tentang pemilu guna menghindari adanya pengaturan yang tumpang tindih.
“Kodifikasi ini perlu karena memang banyak aturan terkait pemilu yang diatur secara menyebar,” kata Yulianto, di Jakarta, Selasa (16/11/2010).

Meskipun aturan itu mengatur hal yang sama, kata dia, tapi karena menyebar di beberapa undang-undang maka ada beberapa pasal yang tumpang tindih dan memunculkan masalah.

Ia mencontohkan pengaturan tentang pemilu yang berseberangan, seperti penandaan surat suara pada Pemilu 2009 dan Pemilu Kepala Daerah 2010.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang pemilu legislatif dan UU Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden mengatur pemberian suara dengan memberikan tanda pada surat suara. Pemberian tanda ini kemudian diartikan dengan memberikan tanda centang.

Namun, dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur tentang pelaksanaan pilkada, masih mengatur pemberian suara pada surat suara dengan mencoblos.

“Kedua aturan ini membingungkan masyarakat. Seharusnya ini dapat dihindari,” katanya.

Agar di pengaturan tentang pemilu ini tidak berseberangan, maka perlu kodifikasi hukum tentang pemilu, ujarnya.

Kodifikasi hukum yakni pembukuan jenis-jenis hukum tertentu dalam kitab undang-undang secara sistematis dan lengkap. Tujuan kodifikasi hukum tertulis untuk memperoleh kepastian, penyederhanaan, dan kesatuan hukum.

Peraturan yang mengatur tentang pemilu yakni UU 22/2007 tentang Penyelenggara Pemilu, UU 2/2008 tentang Partai Politik, UU 10/ 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD, dan DPRD, UU 42/2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden, dan UU 27/2009 tentang MPR, DPR, DPD, dan DPRD.

Namun, lanjut dia, kodifikasi hukum untuk pemilu ini baru bisa dilakukan setelah Pemilu 2014, mengingat kinerja DPR saat ini belum maksimal.

“Kodifikasi ini belum bisa saat ini, tetapi DPR sebaiknya mulai membuat persiapan, bisa dengan strategi untuk dikompilasi, atau membahas dari awal dengan lebih sistematis,” kata Yulianto.(Irf/Ant)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s