Perang Dolar dan Yuan

Sebelum pertemuan tahunan menteri keuangan G-20 di Gyeongju, Korea Selatan, baru-baru ini kita menyaksikan ‘perang’ kata-kata. Bahkan di AS ada undang-undang yang memberikan kekuasaan kepada Presiden Obama untuk menghukum China jika terbukti menggunakan yuan sebagai alat untuk melakukan praktik dagang yang tidak fair melawan Amerika.

Amerika saat ini mengalami krisis ekonomi, keuangan, dan perdagangan karena defisit perdagangan mereka terus membengkak pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan ekonomi dunia, bahkan defisit perdagangan mereka sudah mencapai US$1,4 trilliun–tertinggi selama sejarah. Menurut Amerika, salah satu penyebab defisit itu adalah kurs nilai mata yuan diatur atau direkayasa pemerintah China dan dibiarkan rendah sehingga barang-barang produk China membanjiri Amerika. Itulah yang menimbulkan defisit perdagangan mereka. Ted Geithner beberapa kali meminta agar yuan itu dibiarkan mengambang sesuai dengan fluktuasi pasar, jangan diatur pemerintah. Tetapi, pemerintah sejauh ini bergeming dan membiarkan nilai yuan lemah, paling tidak karena tekanan Amerika, mereka membuat mengambang pada border atau kisaran tertentu saja, tidak bebas seperti ditentukan ‘market’. Amerika tidak puas dan membawa itu ke sidang menteri keuangan di Korea Selatan dan memang menjadi topik paling hangat.

Bahkan itulah salah satu isu yang marak dan sangat mengkhawatirkan Korea sebagai ketua penyelenggara dan anggota lain. Sebelum pertemuan digelar sudah terjadi perang ‘nilai mata uang’ antara Amerika dan China. Amerika sangat mengkhawatirkan jika ada negara yang bermain curang (menurut tuduhan Amerika) melalui rekayasa kurs mata uang mereka atau on competitive currency devaluations sehingga bisa meningkatkan ekspor produk mereka, menaikkan defisit negara, dan akhirnya menaikkan cadangan devisa. Saat ini defisit perdagangan terbesar di dunia adalah Amerika dan surplus terbesar dunia adalah China yang sudah mencapai US$3 triliun. China pun masuk anggota BRIC–Brasil, Rusia, India, dan China–yang berkesempatan masuk struktur IMF nantinya.

Untuk itulah, menteri keuangan Korea mengajukan The Korean Initiative. Itu merupakan perjalanan penting dalam sejarah sistem keuangan internasional yang selama ini sangat dikendalikan dolar Amerika ke arah more market-determined exchange rate system yang dinilai bisa sebagai gambaran fundamental ekonomi suatu negara bukan akibat competitive devaluation of currencies sebagaimana dituduhkan Amerika ke China. Di sini ada juga isu defisit Amerika yang demikian besar yang dibiayai mereka dengan mencetak treasury bill atau pada hakikatnya adalah mencetak uang dolar. Maka pada saat yang sama anggota G-20 juga minta agar Amerika secara serius mengurangi defisit mereka maksimal 4% dari GDP dan Amerika berjanji dengan senyuman. Apa artinya biasanya adalah forget it, kalau dia sudah aman.

Yang menjadi sorotan kita adalah apa pelajaran dari situasi perang yuan-dolar ini terhadap sistem ekonomi yang berlaku saat ini di Indonesia, yaitu sistem kapitalis yang secara membabi buta kita mengikuti sistem kapitalis dan rumusan Amerika, negara donor, atau rumusan IMF dan Bank Dunia. Bagaimana seharusnya Indonesia belajar dari situasi ini?

Memang pertanyaan yang harus dijawab Ted Geithner dan para pendukung sistem ekonomi kapitalis, termasuk di Indonesia, adalah apakah surplus defisit perdagangan itu karena permainan kurs saja atau ada masalah lain yang jauh lebih penting dalam sistem keuangan yang berlaku di AS dan dunia sekarang ini?

Sebagaimana diketahui, ekonomi kapitalis yang dibanggakan Amerika selama ini, yang hancur pada 2008 dan dampaknya terasa sampai saat ini, adalah ekonomi dengan mengandalkan nilai tambah ekonomi melalui penggelembungan pasar uang dan modal yang ditandai dengan debt financing, teknologi dengan hak copy right, paten, franchise, hak intelektual, biaya SDM yang tinggi, dan sebagainya. Atau seperti China dan Jepang yang melakukan produksi terus-menerus dengan harga terjangkau, murah, dan kualitas yang juga tidak buruk-buruk amat dan bahkan banyak mengimitasi produk Amerika.

Jawabannya sederhana, yaitu sistem buble economy yang dibangun dengan mengandalkan monetary based economy atau ‘pasar uang dan modal’ akan memiliki batas apalagi jika spekulasi, derivatif, debt financing, trading currency, dan future commmodity berbasis spekluasi dan riba menjadi andalan. Yang lebih penting ada real based economy sebagaimana yang diterapkan Jepang dan Korea. Jusuf Kalla pernah merumuskan kebijakan ekonominya ini dengan sangat simpel, “Bursa Efek Indonesia perlu, tetapi lebih perlu Tanah Abang.” Kalau para perumus kebijakan ekonomi kita di atas masih ingat teori Iving Fisher yang meminta agar diciptakan kesimbangan antara velocity of money dan produksi barang, perang yuan dan dolar tidak perlu terjadi dan Ted Geithner tidak perlu mencak-mencak mengatur ekonomi negara lainnya. Bagaimana kita di Indonesia? Kita masih mengekor sistem dan kebijakan ekonomi yang salah melalui me too approach, ‘saya juga ikut yang biasa, enggak enak dan riskan mengubah ke sistem baru’. Kebijakan itu adalah kebijakan dari pemimpin penakut, tidak melihat ke depan dan tidak memiliki tanggung jawab kepada nasib bangsa di masa depan yang semakin sulit karena persaingan yang semakin sulit pula.
Apa keyakinan para menteri keuangan terhadap kebijakan yang mereka tempuh yang melanjutkan sistem lama yang menguntungkan Amerika? Bisa kita baca dari hasil komunike bersama pertemuan G-20 di Gyeongju tentang situasi ekonomi dunia. Mereka menyebutkan sebagai berikut: ‘ada progres, tetapi masih dalam situasi rentan pecah atau mudah muncul krisis atau fragile and uneven’.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s