Para Relawan Sumber Inspirasi

BENCANA gempa dan tsunami telah meluluhlantakkan Kepulauan Mentawai di Sumatra Barat. Gelombang panas pun membumihanguskan daerah sekitar letusan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Dua bencana yang datang hampir bersamaan pada akhir Oktober itu tentu saja membutuhkan ikhtiar, biaya, tenaga, dan komitmen yang luar biasa untuk menyelamatkan korban.

Pekerjaan yang amat besar itu dilakukan banyak pihak, terutama para relawan. Mereka masih dan terus berjuang keras menyelamatkan para korban di tengah ancaman serangan awan panas, atau di tengah alam yang tidak bersahabat.

Mereka melakukan tugas agung kemanusiaan, menolong sesama. Mereka berusaha sekuat tenaga agar orang lain–yang mereka tidak kenal sebelumnya–terselamatkan. Inilah anak bangsa yang mencintai sesama manusia melebihi diri sendiri.

Mereka selalu mendahului pejabat berada di daerah bencana. Pada saat pejabat melarikan diri dari daerah bencana untuk melancong ke luar negeri dengan alasan memenuhi undangan duta besar, para relawan tetap betah berada bersama korban.

Tidak sulit menemukan relawan di daerah bencana, sekalipun mereka tidak memamerkan atribut. Itulah yang membedakan relawan dengan partai politik. Pada saat relawan berlomba-lomba menolong sesama, partai politik justru berlomba-lomba memasang bendera partai.

Harus jujur diakui, para relawan lincah bergerak di daerah bencana karena mereka tidak disandera birokrasi. Pada saat pemerintah pusat dan pemerintah daerah linglung bekerja karena tidak punya standard operating procedure (SOP) penanggulangan bencana, para relawan justru menjadikan nurani sebagai standar.

Salut untuk relawan. Meski demikian, tanpa mengurangi rasa hormat, para relawan perlu membenahi dan membekali diri. Tidak sedikit pula ditemukan relawan yang tidak bisa bekerja karena tidak mempunyai kemampuan teknis. Bahkan, sangat memilukan, ada pula relawan yang ikut menjadi korban.

Modal semangat dan hati nurani saja tidak cukup. Para relawan harus memiliki pengetahuan mengenai bencana dan koordinasi yang baik.

Tentu, adalah penting para relawan mempelajari dulu seluk-beluk daerah bencana. Meminjam nasihat Ketua Umum Palang Merah Indonesia Jusuf Kalla, “Kalau relawan takut ombak, ya jangan ke Mentawai. Kalau takut panas, ya jangan ke Merapi.”

Keberadaan relawan pun diharapkan bisa menjadi sumber inspirasi bagi korban bencana. Bahwa warga bisa membantu diri sendiri tanpa menggantungkan sepenuhnya nasib kepada negara. Apalagi negara sering absen di daerah bencana.

Tak hanya kepada relawan, apresiasi pun harus dilayangkan kepada para dermawan, yang tersentuh hatinya dan membuka dompet secara sukarela untuk menyelamatkan korban.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s