Candi Borobudur Terancam Keropos oleh Debu Vulkanik

TEMPO InteraktifJakarta -Sampai hari ketiga pasca-letusan, Gunung Merapi masih menyimpan potensi bahaya. Aktivitas terakhir yang dilakukan Merapi berupa semburan awan panas ke arah selatan dengan jarak luncur sekitar 3,5 kilometer dari puncak gunung. “Belum ada perubahan status, Merapi masih berstatus awas,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Surono, kemarin.Kemarin awan panas kembali meluncur pada pukul 16.13 WIB. Semburan awan panas ini merupakan yang kedua kalinya sejak letusan Merapi pada Selasa lalu. Para pengungsi disarankan bertahan di pengungsian hingga kondisi Merapi aman. “Desa sekitar Merapi belum aman,” katanya.

Surono enggan memprediksi kondisi Merapi apakah akan stabil dalam beberapa hari ini. Semua pihak dimohon mengikuti rekomendasi sesuai dengan status kondisi gunung.

“Keselamatan harus diutamakan,” kata Surono.
Adapun kemungkinan ancaman lahar dingin, menurut dia, masih terlalu dini. “Kami belum ke arah sana,” ucap Surono. “Setelah awan panas berlalu, kami akan survei menyeluruh berapa juta kubik material, daerah mana saja yang rawan terkena, dan melalui sungai mana.” Survei menyeluruh dilakukan setelah kondisi Merapi turun.

Kepala Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, Subandriyo, meminta agar peta kawasan rawan bencana sekitar Merapi direvisi. Pengubahan peta kawasan rawan menyusul erupsi Merapi yang mencapai 8 kilometer dari lokasi. “Karena peta kawasan rawan bencana itu sudah dibuat puluhan tahun lalu, kalau tidak salah pada tahun 1911,” katanya.

Revisi peta kawasan merupakan konsekuensi dari masuknya kawasan rawan bencana II, yang tidak masuk dalam daerah terlarang (forbidden zone) atau kawasan rawan bencana III tapi terkena ujung lidah awan panas.
Biasanya pada kawasan rawan bencana III, jika Merapi dalam status awas, wilayah tersebut harus dikosongkan. Jika peta kawasan bencana II direvisi dan masuk ke kawasan III, wilayah yang masuk kawasan itu berpotensi terkena luncuran awan panas.

Kawasan rawan bencana III yang pada peta bahaya Merapi lama termasuk daerah terlarang adalah Kinahrejo, Kaliadem, Kaliurang, Tritis, Tunggul Arum, Ngerakah, Kalitengah, dan Turgo. Sedangkan kawasan II adalah Desa Gondang, Betung, Banjarsari, dan Kopeng. Pada erupsi dua hari lalu, ujung lidah api mencapai Gondang.

Menyusul gempa berkekuatan 4 pada skala Richter di Yogyakarta kemarin, menurut staf Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, Dwi Astuti, tektonik yang berada di dekat Merapi bisa mempengaruhi aktivitas gunung api ini. Sebab, gunung berapi terbentuk dari tumbukan dua lempeng bumi. Sehingga sangat dimungkinkan mempengaruhi aktivitas gunung berapi.

Pusat gempa terjadi pada 8,02 Lintang Selatan dan 110,49 Bujur Timur, yaitu di 13 kilometer arah barat daya dari Wonosari, atau tepatnya di Sungai Opak yang berada di Bantul. Gempa terjadi pada pukul 08.39 WIB. Gempa berada di kedalaman 10 kilometer di darat.

Dampak debu vulkanik Merapi juga dikhawatirkan membuat keropos batu Candi Borobudur. “Karena sifat debu itu asam,” kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Marsis Sutopo kemarin.

Dengan tingkat keasaman (pH) debu mencapai tingkat 4 hingga 5, dibutuhkan waktu 4-5 hari untuk membersihkan seluruh bagian candi. Jika penanganan terlambat, kata Sutopo, batu akan mengalami korosi. Butiran kecil abu yang menempel pada permukaan batu membuat batu cepat lapuk dan keropos. Proses itu berlangsung di sela perubahan cuaca hujan dan panas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s