Membuka akses finansial warga miskin

Dari hasil kunjungannya ke Bangladesh, pengusaha Sandiaga Salahuddin Uno bercerita bagaimana Grameen Bank menjadi agen perubahan mental, bahkan berpotensi menjadi sebuah kekuatan politik. “Pengemis di negara itu yang semula hanya meminta-minta, menggunakan modal yang diperoleh dari Grameen Bank untuk berdagang asongan. Ada juga warga lain yang menggunakan dana guna membangun rumahnya untuk fasilitas penjualan ritel,” tuturnya.

Apa yang dituturkan Sandiaga menggambarkan bahwa akses finansial bisa memutus lingkaran setan kemiskinan. Dengan inovasi ini pula, Muhammad Yunus penggagas Grameen Bank meraih penghargaan Nobel Perdamaian.

Dalam perspektif lain PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional telah menetapkan pilihan segmentasi pasar usaha mikro.

Ini jelas berita baik, karena bank-bank lain juga banyak memberikan perhatian serupa seperti PT Bank Danamon Indonesia, PT Bank Syariah Indonesia, PT Bank Mayapada Tbk, maupun pemain paling lama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk.

Upaya pemerintah melibatkan bank-bank komersial agar masyarakat kecil mendapatkan akses finansial juga tampak dengan dibuatnya program kredit usaha rakyat yang mengusung jargon, propoor, projob, dan progrowth. Target program ini, nasabah yang belum pernah memperoleh kredit.

Namun, berbagai upaya memperhatikan sektor pembiayaan mikro tetap saja menyisakan masyarakat yang belum mendapatkan akses pendanaan dari bank ataupun lembaga keuangan lainnya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono punya analisis, biaya transaksi terlalu mahal sehingga menjauhkan masyarakat dari akses lembaga keuangan.

Upaya penetrasi ke kelompok masyarakat miskin mengilhami sejumlah bank sentral dan kelompok penentu kebijakan untuk menjalin kerja sama untuk meningkatkan penetrasi transaksi keuangan formal ke kelompok masyarakat berpenghasilan rendah tetapi masih produktif.

Saat ini, tema finansial inklusif-keterlibatan masyarakat miskin dalam transaksi keuangan-yang digagas sejumlah bank sentral maupun lembaga melalui Alliance for Financial Inclusion (AFI) menjadi gerakan sejumlah negara untuk mengentaskan kemiskinan.

AFI menggelar pertemuan sekitar 130 pembuat kebijakan finansial dari 50 negara berkembang dan sekitar 60 mitra strategis lainnya di Jimbaran, Bali sejak Senin hingga kemarin.

Akses minim

Maklumlah, sebanyak 1,4 miliar manusia hidup dengan pendapatan di bawah US$1,25 per hari. Selain itu, terdapat 2,5 miliar orang dewasa yang tidak memiliki akses terhadap jasa perbankan formal.

Pilihan untuk menyediakan pembiayaan bagi masyarakat miskin menjadi kebijakan prioritas untuk pengentasan kemiskinan.

Bahkan sebelum AFI diluncurkan pada September 2008, Muhammad Yunus di Bangladesh dengan Grameen Bank telah menyasar rakyat miskin sehingga bisa mengakses kredit. Dalam bentuk lain, Indonesia memiliki BRI yang sejak puluhan tahun membiayai masyarakat kredit dengan Kredit Usaha Pedesaaan (Kupedes)

Kenya dengan bangga mengumumkan telah sukses melakukan penetrasi akses perbankan terhadap 10 juta warganya dengan memanfaatkan teknologi telepon seluler.

Di Indonesia, kebijakan kredit usaha rakyat akan dilanjutkan lagi dengan nomor identitas finansial (financial identity number/FIN) yang saat ini proyek percontohannya berlangsung di sembilan kabupaten.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Muliaman Darmansyah Hadad sudah jelas menyebutkan tujuan dari kebijakan ini untuk memetakan masyarakat miskin yang produktif. Pemetaan masyarakat miskin tersebut bisa menjadi dasar bagi bank untuk identifikasi kelayakan nasabah dalam menerima pinjaman.

Upaya ini diklaim akan berdampak positif untuk mengurangi rasio kredit bermasalah sekaligus juga berperan menambah jumlah debitur yang bankable.

Namun, BI harus mengoordinasikan rencana ini sekaligus bersikap kukuh terhadap pemerintah yang memiliki agenda nomor identitas tunggal (single identity number/SIN) yang sudah sekian tahun tak kunjung terwujud. Selain itu, prosedur operasi standar pembuatan FIN maupun peringkat debiturnya harus mencerminkan situasi rill.

Berbagai varian kebijakan di sejumlah negara tentunya diharapkan bisa menjadi jembatan pencapaian target AFI yaitu adanya 50 juta tambahan debitur dengan penghasilan kurang dari US$2 yang memiliki akses layanan keuangan formal pada 2012.

Pelaku pasar berharap jangan sampai penambahan ini berimbas terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah. Kenaikan rasio kredit bermasalah akan menimbulkan ekspektasi negatif bagi investor di pasar modal karena tak sedikit bank yang memperdagangkan saham di pasar modal. (munir.haikal@bisnis.co.id)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s