Visi 2030 “Ketinggalan Kereta”

Komite Ekonomi Nasional (KEN) mengungkapkan kemungkinan revisi Visi Indonesia 2030 setelah perkembangan perekonomian Indonesia melebihi prediksi yang disusun pada 2006. Ketua Komite Ekonomi Nasional Chairul Tanjung mengatakan perkembangan perekonomian nasional yang relatif meyakinkan membuat visi yang disusun 4 tahun lalu perlu disusun ulang.

“Indonesia Forum merumuskan visi ini [Visi Indonesia 2030] pada 2006, tetapi dalam perkembangannya kami telah tertinggal 2 tahun,” katanya dalam orasi ilmiah di Institut Pertanian Bogor, kemarin.

Orasi dilakukan dalam sebuah sidang terbuka yang dipimpin oleh Rektor IPB Herry Suhardiyanto dan dihadiri oleh para guru besar perguruan tinggi itu dalam rangka Dies Natalis IPB ke-47. Mantan Menteri Keuangan Jusuf Anwar juga tampak hadir dalam acara itu.

Chairul menyebutkan dalam Visi Indonesia 2030, pendapatan per kapita pada tahun ini diprediksi US$2.359, tetapi dalam realisasinya telah mencapai US$3.000. Pada tahun depan, katanya, KEN memprediksi pendapatan per kapita mencapai US$3.200 dan 2015 tembus US$6.000. Prediksi itu lebih tinggi dari proyeksi awal yang masih US$5.000 per kapita.

Menurut dia, visi tersebut bisa dicapai dengan dua strategi yaitu menciptakan pertumbuhan ekonomi baru dan memuluskan proses transformasi dari ekonomi pertanian ke industri dan jasa.

Chairul melanjutkan pusat pertumbuhan ekonomi baru juga harus terhubung secara ekonomi. Strategi tersebut diharapkan dapat memfasilitasi distribusi penduduk agar lebih merata sejalan dengan kegiatan ekonomi.

“Indonesia sebagai satu kesatuan ekonomi yang kuat kemudian harus terhubung dengan dunia internasional yaitu masuk ke dalam rantai produksi global,” kata Ketua KEN itu.

Gelombang baru

Bankir senior Cyrillus Harinowo mengatakan dengan pendapatan per kapita US$3.000 pada tahun ini dan US$3.300 per kapita pada tahun depan akan menciptakan gelombang baru (the next wave) dalam perekonomian.

“Jika suatu negara memasuki PDB per kapita US$3.000 dikatakan akan muncul gelombang baru,” katanya pada awal pekan ini.

The next wave, ujarnya, muncul seiring dengan pertumbuhan penjualan barang elektronik dan penjualan kendaraan bermotor yang terus mengalami pertumbuhan. Dia memberi contoh penjualan mobil sempat diprediksi 550.000 per unit, tetapi realisasinya ternyata 650.000 per unit.

Cyrillus mengimbau agar pemerintah segera menyiapkan kebijakan untuk merespons peningkatan permintaan masyarakat. “Jika pemerintah tidak segera menyiapkan diri, sektor swasta akan tetap merespons permintaan tersebut tetapi prasarana belum memadai.”

Adapun, Erlangga Mantik, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Perekonomian, mengatakan peningkatan komponen pembentuk PDB dari perdagangan internasional sampai dengan pengeluaran pemerintah akan berpengaruh positif terhadap penciptaan lapangan kerja.

Perubahan tersebut, katanya, akan berimplikasi pada perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat terutama dari sisi pendapatan. “Kalau komponen-komponen tersebut naik, maka pendapatan per kapita kita optimis meningkat signifikan,” katanya.

Dia juga memprediksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2010 akan lebih tinggi dari realisasi 2 kuartal sebelumnya yaitu 5,6% pada kuartal pertama dan 6,2% pada kuartal kedua. (07/Agust Supriadi/Lutfi Zaenudin) (hery.trianto@bisnis. co.id)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s